LENSAINDONESIA.COM: Zahroh (45), warga Jl Kandangan, Benowo, pelaku persetubuhan terhadap ABG siswi kelas 3 SMP hingga hamil yang tak lain tetangganya sendiri akhirnya divonis sembilan tahun penjara oleh Majelis Hakim PN Surabaya.

Dalam sidang di Ruang Kartika dipimpin Ketua Majelis Hakim, Ni Made Sukadani, Zahroh dijatuhi hukuman penjara selama 9 tahun dan denda sebesar Rp 60 juta. Hukuman ini, lebih ringan 2 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rahmawati.

Terdakwa Zahroh, secara sah telah dengan sengaja melakukan persetubuhan dengan anak yang masih di bawah umur dengan cara bujuk rayu. Karena bujuk rayu itulah, sehingga DK (15), dengan rela menyerahkan mahkotanya hingga membuat korban kehilangan masa depan. “Yang memberatkan terdakwa karena pernah beristri tiga wanita dan telah melakukan perbuatan asusila dengan gadis masih di bawah umur. Perbuatan terdakwa ini telah merusak masa depan korban,’ ujar Ni Made dalam amar putusannya, kemarin.

Kronologis terjadinya persetubuhan ini, terjadi sekitar bulan Juli 2012 di kamar terdakwa. Kala itu, DK yang sedang main dengan terdakwa, dipaksa untuk masuk ke kamar. Di dalam kamar itulah, korban dibujuk rayu untuk melakukan persetubuhan.

Meski korban menolak, Zahroh tetap berusaha sekuat tenaga agar korban mau melakukan persetubuhan. Meski korban menangis merasa kesakitan. Terdakwa meyakinkan bakal tidak terjadi apa-apa.

Tak sampai disitu, rupanya hubungan dengan anak di bawah umur yang pantas menjadi anaknya ini dilakukan Zahroh hingga beberapa kali. Sampai akhirnya DK hamil dan membuat orang tua korban tak terima. Lastri, orang tua korban akhirnya melaporkan Zahroh ke Polsek Benowo.

Lastri sendiri mengaku tak puas dengan vonis yang dijatuhkan majelis hakim. Dia menganggap perbuatan terdakwa telah menghancurkan masa depan anaknya yang diharapkan bisa mengenyam pendidikan sampai tuntas dan menjadi kebanggaan orang tua. “Saya tidak puas, mestinya sesuai dengan tuntutan jaksa 11 tahun,” ujarnya saat ikut hadir dalam persidangan di PN Surabaya.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Fodhyi Salim, SH, tak terima dengan putusan itu dan berencana banding meski sebelumnya Zahroh masih pikir-pikir atas putusan tersebut. “Ada yang salah ini, mereka ini suka sama suka saat melakukan hubungan. Pada saat melakukan itu, mereka berdua tidak ada yang dirugikan. Korban sendiri mengaku tidak dalam paksaan saat melakukan,” ujarnya disaksikan DK.

DK sendiri, merasa kecewa dengan tuntutan itu. Padahal menurutnya, hubungan yang dilakukan mereka berdua atas dasar cinta. Dan korban mengakui telah menjalin cinta selama 2 tahun. “Saya pacaran sama dia (Zahroh, red), diketahui oleh orang tua saya. Orang tua saya mulai tidak suka setelah tahu saya hamil. Dia mau bertanggungjawab atas anak saya yang masih berumur 3 bulan ini,” ujar DK usai persidangan.@ian