LENSAINDONESIA.COM: Keberadaan para penyandang disabilitas di Indonesia harus lebih diperhatikan. Baik dalam memperoleh pekerjaan, penyediaan fasilitas umum hingga menghilangkan diskriminasi kepada mereka yang berkebutuhan khusus.

Karenanya International Labour Organization (ILO) sebuah organisasi tingkat dunia yang punya tujuan utama mempromosikan kesempatan kerja layak kepada penyandang disabilitas berharap semua pihak tak memandang rendah kepada orang-orang penyandang disabilitas ini.

“Kami ingin perspektif publik diubah dalam hal memandang para penyandang disabilitas. Sehingga bisa membuka peluang kepada kaum disabilitas untuk mendapatkan kesempatan kerja,” ujar Koordinator Proyek PROPEL-ILO Indonesia, Johanis Pakereng dalam Pelatihan Media pada Isu Disabilitas di Surabaya, Kamis (21/08/2014).

Pihaknya menilai, selama ini kaum minoritas mendapatkan perlakuan yang jauh berbeda dibandingkan orang normal pada umumnya. Padahal jika mau digali potensinya, para penyandang disabilitas juga mempunyai potensi yang tak kalah besar dan bisa diberdayakan dalam banyak bidang pekerjaan.

Dia menyebutkan, dari jumlah penyandang disabilitas di Indonesia yang tercatat sebanyak 11.580.117 orang belum banyak perusahaan yang mau memberikan kesempatan kerja kepada mereka, yakni kaum disabilitas.

Sementara di negara kita, masih kata Johanis, sudah ada aturan yang kuat mendukung hak-hak orang cacat. Seperti dalam UU nomor 4 tahun 1997 sudah mengatur dengan jelas adanya kuota satu persen bagi penyandang disabilitas untuk bisa bekerja di perusahaan.

“Tiap 100 karyawan harus ada satu orang yang penyandang disabilitas, aturannya sudah sangat jelas ditambah aturan lainnya dari Kemenakertrans. Cuma persoalannya bagaimana terus sosialisasikan aturan itu. Sehingga semua perusahaan tahu aturan itu dan menjalankannya,” tegasnya.

Tak hanya aturan, pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan sejumlah sanksi, jika ada perusahaan yang tidak menerapkan kuota satu persen. Dimana tertulis denda minimal 20 ribu US Dollar atau setara dengan Rp 200 juta bagi perusahaan yang tak mematuhinya. “Tapi mana ada perusahaan hingga sekarang yang dikenai sanksi itu. Belum ada kan? Makanya mari kita angkat isu-isu kaum disabilitas ini agar semua pihak tahu dan memahaminya,” harap dia.

Khusus untuk perusahaan di Jatim, ILO menyatakan apresiasinya karena sudah ada beberapa perusahaan yang sudah menerapkan aturan penerimaan kuota satu persen bagi kaum disabilitas. Sayangnya, prosentase jumlah perusahaan yang peduli dengan kaum disabilitas masih tergolong rendah. Sebagai wilayah industri, perusahaan di Jawa Timur yang ikut menerapkan aturan itu masih dibawah 10 persen.

“Jatim perhatian bagi disabilitas cukup baik. Namun masih kurang dan harus ditingkatkan terus. Kalau mereka tidak diberi kesempatan, bagaimana mereka bisa mengembangkan pengetahuannya dan daya saing. Contoh di Hotel Shangri-La Surabaya sudah memperkerjakan penyandang disabilitas mereka bahkan menambah kuota karyawan dari satu persen menjadi dua persen bagi kaum disabilitas,” pungkas Johanis.@sarifa