Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
HEADLINE DEMOKRASI

Ketua PN Surabaya dilaporkan Komisi Yudisial Jatim ke pusat 

LENSAINDONESIA.COM: Komisi Yudisial (KY) Penghubung Wilayah Jawa Timur telah mengirimkan surat kepada pusat, terkait kasus sidang kepailitan PT Kertas Leces yang dipimpin Ketua PN Surabaya, Herry Supriyono.

Asisten Koordinator Komisi Yudisial Jatim, Ubed Bagus Razali, mengatakan surat tersebut berisi kumpulan data dan keterangan dalam sidang yang dipimpin langsung Ketua Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Herry Supriyono pada Jumat (8/8) lalu. “Surat tersebut telah kami sampaikan secara tertulis ke Komisi Yudisial Pusat Selasa lalu. Nanti terserah petunjuknya, apakah diteruskan oleh kami atau pusat mengirimkan timnya kesini,” terangnya, Sabtu (6/9/2014).

Menurutnya, sidang ini sendiri sebenarnya tidak begitu istimewa. Namun jadi perhatian khalayak dikarenakan adanya kejadian perampokan uang terhadap seorang pengacara, Rusmarti Fatah alias Atiek Fatah.

Dan kebetulan saat dirampok di luar gedung PN Surabaya, Atiek Fatah yang turun dari taksi membawa uang Rp 185 juta akan mengikuti persidangan kliennya.

Sidang kepailitan ini sendiri dilaksanakan pada hari Jumat yang biasanya hanya dipergunakan sidang tindak pidana ringan (Tipiring). “Semua dugaan telah kami dalami. Apakah uang dari Atiek itu rencananya akan diberikan ke hakimnya atau tidak. Semua kesimpulan telah kami sertakan di dalam surat tersebut,” ujar Ubed bagus Razali.

Menurut Ubed Bagus Razali, Komisi Yudisial mempunyai wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim di Pengadilan. Berdasarkan UU no 18 tahun 2011, KY mempunyai tugas untuk melakukan verifikasi, klarifikasi dan investigasi terhadap dugaan pelanggaran kode etik hakim. “Jadi surat yang dikirimkan itu terkait hakim Herry Spuriyono dan dua hakim anggota yang bertugas di dalam sidang pailit PT Kertas Leces. Bukan yang lain,” pungkasnya.

Seoerti diberitakan Lensa Indonesia, Herry Supriyono SH, MH, Ketua Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, dikabarkan tidak lama lagi bakal dipindah tugaskan menjadi Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi (PT) Palembang.

Baca Juga:  BCA kerja sama dengan Ralali.com permudah pembayaran UMKM

Mutasi ketua PN Surabaya ini terkesan mendadak. Bahkan diduga, kejadian perampokan yang menimpa advokat Roosmarty Fattah alias Atiek beberapa waktu lalu dan penanganan sidang permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dengan termohon PT Kertas Leces, menjadi salah satu penyebab kuat dimutasinya Herry.

Saat dikonfirmasi soal pemindahan tugasnya, Herry Supriyono membenarkan kabar tersebut. Namun ia menampik bahwa mutasinya ada kaitannya dengan kejadian perampokan yang menimpa Atik dan sidang permohonan PKPU dengan termohon PT Kertas Leces yang ia periksa. “Tidak benar kalau pindah tugas saya ada kaitannya dengan perkara tersebut mas. Pemindahan tugas saya murni promosi,” jawab Herry kepada wartawan, Kamis (4/9/2014).

Atiek sendiri menjadi korban perampokan di depan pintu masuk PN Surabaya Jl Arjuna. Uang sebanyak Rp 185 juta berhasil digondol pelaku, Jumat (8/8/2014) lalu.

Atik dirampok begitu ia keluar dari taksi yang membawanya tepat di depan pintu masuk PN Surabaya. Didepan penyidik kepolisian, Atiek mengaku saat itu sedang menangani kasus sidang permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dengan termohon PT Kertas Leces.

Atiek merupakan salah seorang di antara empat pengacara kreditor yang mengajukan permohonan PKPU. Kliennya adalah PT Lautan Warna Sari. Konon, PT Kertas Leces memiliki utang Rp 11,2 miliar kepada kliennya. Nah, pada saat Atik membawa uang ke PN Surabaya, kasus tersebut sedang disidangkan. Perkara itu disidangkan majelis hakim yang dipimpin Ketua PN Surabaya Hery Supriyono dengan agenda putusan alias vonis.

Fakta menunjukkan, majelis hakim mengabulkan permohonan Atiek. Tidak hanya itu, sejumlah saksi juga menyebutkan bahwa Atiek berada di pengadilan sejak pagi sebelum kasus perampokan itu terjadi.

Salah satu aktivitasnya adalah menemui hakim yang menyidangkan perkaranya yang pada hari itu akan diputus. Menjelang siang, Atiek keluar dari gedung pengadilan dan pergi ke bank untuk mengambil uang. Ketika turun dari taksi dan hendak masuk ke pengadilan, tasnya yang berisi uang Rp 185 juta dirampok empat pelaku. @ian

Baca Juga:  Polisi gerebek kos pelaku serangan Polsek Wonokromo