LENSAINDONESIA.COM: Jaksa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim terkesan asal-asalan dalam menangani kasus Narkoba. Hal itu terungkap dalam sidang kasus Narkoba dengan terdakwa Indra Guna Sonata di PN Surabaya, Kamis (25/9/2014).

Terdakwa yang dituntut tujuh tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sumanto dari Kejati Jatim ini pantas melakukan pembelaan. Penyebabnya adalah jaksa teledor dengan tak dapat menunjukan barang bukti yang didakwakan kepadanya.

Dalam dakwaan Jaksa Kejati Jatim ini disebutkan, terdakwa ditangkap pada 29 april 2014 di Jl Kedungdoro dengan barang bukti lima butir ineks seberat 1,48 gram. Dari keterangan terdakwa, ineks itu disebut milik Fauzi (DPO) yang meminta tolong untuk diantarkan kepada Debra Librado (DPO). Sayangnya, belum sampai kepada Debra, terdakwa keduluan ditangkap anggota Dit Reskoba Polda Jatim.

Namun dalam persidangan, jaksa tak dapat menunjukan barang bukti ineks yang dimaksud. Jaksa malah mengganti barang bukti perkara dengan serbuk putih (sabu) bukannya pil ineks. “Saya tidak menyalahkan jaksa, tapi bagaimana kalau jaksa tak bisa menunjukan barang bukti sesuai perkara yang dilakukan terdakwa. Saya minta majelis hakim membebaskan terdakwa,” ujar penasihat hukum terdakwa,Trisno Hardani.

Menanggapi ini, Ketua Majelis Hakim Ni Made Sukadani akan mempertimbangkan hal tersebut, tetapi Ni Made mengatakan bahwa sesuai sidang pemeriksaan terdakwa, Indra Guna Sonata mengakui telah membawa ineks yang dimaksud. “Meskipun tidak ada barang bukti, terdakwa mengakui bahwa membawa barang berupa ineks. Lalu apa mungkin Anda minta bebas,” tanya hakim pada terdakwa.

Mendengar hal itu, Indra Guna Sonata langsung meminta agar diberi keringanan hukuman. “Saya minta dihukum seringan-ringannya Bu hakim,” sahutnya. @ian