Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
ASIA

Timor Leste gabung lagi ke Indonesia? Tak perlu ditanggapi serius 

LENSAINDONESIA.COM: Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao melontarkan pernyataan mengejutkan. Ia menyebutkan bahwa Timor Leste harus bergabung dengan Indonesia dan membutuhkan pemimpin baru.

Pernyataan mantan Komandan Fretilin saat menghadiri Upacara HUT TNI ke-69 di Surabaya, Selasa (07/10/14) kemarin tersebut mengundang perhatian publik di Indonesia, termasuk Pengamat Masalah Militer, Khairul Fahmi.

“Pernyataan itu bukalah isyarat penting bahwa Timor Leste bakal kembali menjadi sebuah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” ujar Fahmi kepada lensaindonesia.com, Jumat (10/10/2014).

Ia pun meminta publik tidak perlu tergesa dan terlalu percaya dengan hal itu.

Menurut Fahmi ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyikapi kabar ingin kembalinya Timor Leste ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut.

Yang pertama adalah Seriuskah Xanana dengan pernyataannya? “Saya cenderung menangkap makna implisit dalam pernyataannya itu sebagai keinginan untuk bergabung dalam upaya Indonesia menjadi sebuah negara yang sukses menjalankan demokrasi dengan kestabilan politik dan pesatnya pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran,” kata Fahmi.

Seperti diketahui, sejak merdeka, Timor Leste hingga saat ini masih menjadi negara tertinggal di kawasan ini. “Ketidakstabilan politik, potensi pemberontakan, ketergantungan pada luar negeri, terutama Indonesia dan Australia yang tinggi, mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ekonomi negara itu,” ujar alumnus Unair Surabaya ini.

Artinya, lanjut Fahmi, pernyataan Xanana itu harus dimaknai sebagai keinginan Timor Leste untuk mengikuti ‘Indonesian Way’ dalam membangun negara di era reformasi.

“Ditandai dengan iklim demokrasi dimana kita berhasil melaksanakan tiga kali pemilu demokratis dan tak menimbulkan keguncangan, lahirnya pemimpin yang sesuai dengan kehendak rakyat dan transisi kepemimpinan nasional yang sehat didukung oleh militer yang kuat namun taat hukum serta penegakan hukum yang efektif dan tidak diskriminatif,” urainya sedikit memuji pertumbuhan demokrasi di Indonesia.

Baca Juga:  Mahfud MD: KPK tak bisa kembalikan mandat kepada presiden

“Intinya Indonesia saat ini adalah negara yang stabil, kompetitif, berdemokrasi dan memainkan peran yang konstruktif dalam hubungan internasional. Dan Timor Leste harus bergabung dengan gagasan, cara dan upaya-upaya Indonesia untuk menjadi kuat hanya dalam waktu yang tidak lebih dari satu dekade. Timor Leste harus belajar bagaimana sulitnya mengendalikan sebuah negara demokrasi yang dinamis dan menekan hasrat berkuasa secara otoriter dari pemimpin-pemimpin militernya. Sesuatu yang sukses dilakukan Indonesia pasca jatuhnya Soeharto,” jelasnya.

Dan yang kedua, lanjut Fahmi, bagaimana mestinya respons Indonesia?

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat di Indonesia masih terbelah dalam hal menyikapi posisi Timor Leste. Meski berangsur hilang, sebagian kita masih terjebak romantisme masa lalu dimana Timor Leste masih terintegrasi dalam NKRI dan menyesalkan lepasnya wilayah itu.

“Namun bagaimanapun itu adalah bagian dari sejarah. Indonesia harus ‘move on’ dan fokus pada hal-hal yang lebih besar dan strategis,” paparnya.

Faktanya, saat ini Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di kawasan Asia Tenggara. Indonesia adalah satu-satunya anggota G-20 ekonomi utama di kawasan ini. Potensi demografis, geografis yang besar didukung kemampuan ekonomi dan kekuatan militer yang memadai akan membawa Indonesia kembali pada peran strategisnya di kawasan Asia Pasifik.

Posisi tawar yang meningkat akan memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempertahankan hegemoninya. Dengan tidak saja menjadi ‘big brother’ atau ‘God Father’ bagi Timor Leste,  namun juga bagi negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. “Tentu ini lebih menguntungkan,” pungkas Fahmi.@ridwan_LICOM