Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Perempuan ini, satu dari delapan figur perempuan “tangguh” yang akan membantu pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Sebagai menteri “Kabinet Kerja”, Retno Lestari Priansari Marsudi seperti menteri perempuan lainnya di kabinet Jokowi JK, ia tentu punya keistimewaan kenapa dipilih Jokowi.

Tidak cuma itu, potensi Retno ternyata punya chemistry dengan menteri perempuan lain seperti Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pujiastuti, misalnya, yang akan menggairahkan aset laut untuk menjemput pasar Internasinal, dibawah Menko Kemaritiman baru.

Retno, dialah menteri luar negeri perempuan pertama dalam sejarah kabinet sejak presiden RI pertama Ir Soekarno. Sejak Republik Indonesia berdiri 69 tahun lalu, pejabat diplomasi negara di dunia internasional senantiasa dikuasai figur laki-laki. Diawali Menlu Mr Achmad Soebarjo, Sutan Sjahrir, hingga generasi era tahun 2000 seperti Hassan Wirajuda dan Marty Natalegawa.

Dan, Retno meski memulai bertugas sebagai Menlu-nya Presiden RI ketujuh Jokowi, namun dia sebagai menteri luar negeri ke 18 yang pernah dimiliki pemerintahan Indonesia. Dan, satu-satunya Menlu perempuan diantara 18 pejabat MenLu.

Tentu, ini merupakan keberanian tersendiri bagi Presiden Jokowi mengangkat perempuan kelahiran Semarang itu. Retno selama pemerintahan Presiden SBY, diberi tanggungjawab sebagai Dubes RI untuk Belanda berhasil menunjukkan kemampuan yang tidak diragukan.

Dari rekam jejak Retno, sangat mungkin, Presiden Jokowi memilihkan karena ingin top diplomat ini memperkuat fungsi kerja sama ekonomi di era pasar bebas. Para dubes dan jajarannya diminta fokus mencari peluang pasar ekspor baru di mancanegara.

“Beliau selama ini Duta Besar untuk Belanda. Pekerja keras, dan sekarang menjadi menteri luar negeri perempuan pertama dalam sejarah kita,” kata Presiden Jokowi saat memperkenalkan di Istana Merdeka, sehari sebelum dilantik Senin kemarin (26/10/14).

Rupanya, yang membedakan paling mencolok antara Menteri Retno dan Menteri Susi, sejak hari pertama keduanya diumumkan menjadi menteri di “Kabinet Kerja” di Istana Merdeka, Susi berani bersikap kebiasaanya merokok. Ini seperti ketika diwawancarai wartawan di halaman istana, Minggu (26/10/14). Sedang Retno tipe perempuan tidak perokok, apalagi punya keberanian merokok secara terbuka. Keduanya sama-sama fasionabel dan berambut pendek mencerminkan trengginas dan gesit. Cuma, Susi kakinya bertatto sedang Retno lebih terkesan perempuan konvensional.

Lainnya, Retno berkarir diplomat dari bawah sebagai karyawan Kementerian Luar Negeri dengan mengantongi izasah S-2 di Haagsche Hooge School Jurusan Hukum EU, Den Haag. Susi mengawali jadi bakul ikan di pasar Pangandaran, berizasah cuma SMP, dan kini punya 50 pesawat terbang, dan sebagai Owener dan CEO perusahan bergerak di bidang ekspor perikanan.

Menlu Retno sebulan lagi –27 Nobember 2014– genap berusia 52 tahun. Dia bertugas sebagai Duta Besar untuk Belanda sejak sejak 21 Desember 2012. Dengan ditunjukkan sebagai Menlu, Retno memang dipastikan tak punya waktu banyak untuk jeda pasca menjalankan tugas di Belanda.

Dia layak jadi Menlu, karena mengantongi pengalaman dalam karier diplomat cukup panjang. Retno pernah menjabat Direktur Jenderal Amerika dan Eropa di Kementerian Luar Negeri pada April 2008 sampai Januari 2012. Saaat itu, Retno teruji memenej hubungan Indonesia dengan 87 negara di Eropa dan Amerika.

Jadi Dubes Belanda, bukan pertama bagi Retno menjabar Dubes. tahun 2005 sampai 2008, dia bertugas sebagai duta besar untuk
untuk Kerjaaan Norwegia dan Republik Islandia.

Ibu dua anak ini merupakan alumsi S-2 di Haagsche Hooge School Jurusan Hukum EU, Den Haag. Suaminya, Agus Marsudi seorang arsitek. Ia juga pernah mendapat penghargaan Bintang Jasa “Grand Officer” dari Raja Norwegia. Bahkan, Retno orang Indonesia pertama meraih kehormatan tinggi itu.

Bagi Retno Kementerian Luar Negeri tidak asing. Dia pernah bertugas di beberapa jabatan penting di Kemlu RI. Dia juga sebagai Direktur Kerjasama Intra Kawasan Amerika-Eropa (2001-2003). Kemudian, Direktur Eropa Barat (2003-2005).

Perempuan ini berkarier sebagai diplomat memang dari bawah. Setahun setelah lulus UGM jurusan hubungan Internasional (1980), dia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri (dulu bernama Departemen Luar Negeri).

Dengan pengukuhan Retno sebagai Menlu perempuan pertama di Indonesia, Jokowi ingin menunjukkan bahwa kebijakan pemerintahannnya tetap memperhatikan kesetaraan gender.

Sebagai perempuan berkarier diplomat, Retno membuktikan tidak benar anggapan klise bahwa perempuan berkarir diplomat membuat mengabaikan rumah tangga. Sebagai ibunda dari dua putera dan isteri seorang arsitek, keluarga Retno mampu mengarungi bahtera hingga mengantarkan kariernya saat ini mendapatkan tantangan lebih berat.

“Saya akui, ketika profesi ini (diplomat) dipegang seorang wanita, ada tantangan tersendiri. Apalagi bila sudah berkeluarga. Tapi, saya sangat menikmati profesi ini,” kata Retno sebagaimana dirilis di laman alumni Fisipol UGM.

Masa muda Retno saat mengawali karier dilomat, ia nekat menerima tugas berat ke Australia. Tahun 1992 itu, Indonesia dipojokkan atas pembantaian warga Timor Leste di Santa Cruz, Dili.

Sukses bertugas di Australia, pada 1997, Retno menjadi Sekretaris Satu Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag, Belanda. Karirnya pun melesat, dia dipercaya menjadi Kepala Bidang Ekonomi.

Sejak itu, Retno menjadi sangat familiar dengan politik luar negeri Eropa. Bahkan, dia menyelesaikan Studi lanjut bidang HAM di Ibu Kota Oslo.

Mengarungi karir diplomat, membawanya mencapai puncak menduduki jabatan eselon, sebagai Direktur Jenderal Amerika Eropa (2008 hingga 2012).

Kemudian, menanjak dipercaya negara untuk menjabat Dubes. Selama sebagai Dubes, dia fokus meningkatkan hubungan dagang Indonesia-Belanda yang hanya mencapai USD 5 juta per tahun.

“Dubes kita harus diproduktifkan, mereka tidak saja ahli di bidang politik, tetapi juga memasarkan produk Indonesia,” kata Jokowi sebagaimana dilansir merdeka.com, saat kampanye Pilpres, 12 Juni 2014.

Karena itu, semakin mengindikasikan kuat bahwa Retno diinginkan Presiden Jokowi memperkuat fungsi diplomat kerja sama ekonomi di era pasar bebas. Sekaligus menjadi “pilot” para dubes dan jajarannya yang ditarget Presiden Jokowi mendapatkan peluang pasar ekspor baru. Utamanya, mengembangkan ekspor industri aset laut yang menjadi tanggungjawab Menteri Perikan dan kelautan Susi Pujiastuti.

Ini seperti janji Jokowi menjadikan Indonesia sebagai negara yang pertumubahan perekonomiannya sangat diperhitungkan di dunia. @duta/licom