LENSAINDONESIA.COM: Peredaran gula rafinasi atau gula impor di Indonesia, khususnya di wilayah timur yang menjadi pasar dari pabrik gula Jawa Timur, mulai meresahkan masyarakat, setelah mengakibatkan 900 ribu ton gula lokal di Jatim menumpuk di gudang.

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Muhammad Fawaid meminta pemerintah harus segera melakukan pengawasan dan memperketat peredaran gula rafinasi. “Jika aturan lebih ketat, maka peredaran gula lokal bisa kembali terjual dan tidak lagi mengalami penumpukan di gudang,” ujarnya, Rabu (3/12/2014).

Agar pemerintah serius dalam pengawasan, pihaknya siap untuk mengawal persoalan tebu di Jatim karena nasib petani tebu semakin hari semakin terpuruk. “Kami kawal terus ini karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” katanya.

Salah satu langkah yang telah dilakukan, Komisi B DPRD Jatim sudah datang ke pemerintah pusat dan mendesak agar menhentikan impor gula. “Kemudian kami juga minta agar pemerintah menghentikan pemberian ijin untuk eksportir gula impor agar gula milik petani bisa beredar di pasaran,” paparnya.

Senada dengan hal itu, Anggota Komisi B DPRD Jatim lainnya, Pranaya Yuda meminta pemerintah membeli atau mengganti uang terhadap gula lokal agar tidak terjadi penumpukan di sejumlah pabrik gula. Ini penting dilakukan, pasalnya apabila gula ini mengalami penumpukan selama enam bulan maka gula ini akan mengalami kerusakan. “Dengan adanya pembelian gula lokal oleh pemerintah ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan gula di Jatim,” jelas Yuda.

Ia berharap pemerintah pusat supaya bisa membatasi bahkan melarang gula rafinasi beredar di Jatim karena masih banyak dijumpai white sugar maupun ray sugar beredar di Jatim. “Sebaiknya pemerintah pusat meniru Pemprov Jatim juga berani membatasi peredaran gula rafinasi untuk industri di Jatim karena banyak penyalahgunaan penyalurannya,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Samsul Arifin mengaku, telah melakukan perencanaan dan kebijakan teknis pembangunan perkebunan di Jawa Timur melalui kajian, audit, dan penelitian. “Kami berharap masalah ini bisa segera terselesaikan dengan baik. Seperti gula yang kini menumpuk di Jawa Timur dan belum bisa tersalur ke pasar menimbulkan banyak kecurigaan kepada tata niaga gula rafinasi yang merembet ke pasar konsumsi,” tukas Samsul.@sarifa