LENSAINDONESIA.COM: Tragedi kecelakaan pesawat komersial milik perusahaan penerbangan Malaysia terjadi secara beruntun. Masih segar dalam ingatan kita, ketika pesawat Malaysia Airlines MH370 dinyatakan hilang pada Maret 2014 lalu. Bahkan pesawat nahas tersebut hingga kini belum jelas keberadaanya.

Kemudian, selang empat bulan, tepatnya Juli 2014, pesawat Malaysia Airlines kembali mengalami musibah. Adalah peswat Malaysia Airlines MH17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur jatuh secara tragis di wilayah Ukraina dekat perbatasan Rusia. Diduga pesawat tersebut ditembak dengan roket oleh kelompok sparatis pro Rusia.

Dalam tragedi itu, sedikitnya 300 penumpang yang 12 orang di antaranya merupakan warga negara Indonesia tewas.

Belum sampai berganti tahun, Sabtu (28/11/2014) kemarin, sebuah pesewat milik perusahaan penerbangan Malaysia, Asia Air QZ8501 hilang saat terbang dari Surabaya menuju Singapura.

Dibalik rentetan tragedi yang mengundang rasa duka yang dialami keluarga para korban tersebut, sangat perting untuk diketahui sejauhmana peranan asuransi dalam sebuah kecelakaan transportasi udara ini, dan Bagaimana seharusnya aturan klaim asuransi kecelakaan pesawat yang layak dibayarkan?

Di dalam dunia penerbangan (transportasi udara), masalah asuransi tidak bisa dipisahkan, mengingat sektor ini memang masuk kategori bisnis berisiko tinggi. Jadi dalam tragedi pesawar MH17, MH370 hingga Asia Air QZ8501, para penumpang yang menjadi korban tentunya sudah dilindungi asuransi. Nah, lantas seberapa besar pertanggungannya?

Jawabannya, sudah ditentukan dalam Konvensi Montreal (Montreal Convention) yang diresmikan tahun 1999. Di mana besarnya nilai klaim yang didapat penumpang akibat kecelakaan selalu mengalami perubahan setiap waktu karena mengikuti laju inflasi global. Tidak hanya itu, perjanjian tersebut rupanya juga mengatur jumlah penggantian untuk barang.

Special Drawing Rights (SDR)

Sebelum membahas berapa besar uang yang bisa diterima penumpang korban, perlu diketahui dulu soal kurs. Sebab industri penerbangan memang memiliki keunikan tersendiri, hal ini disebabkan karena pertanggungan asuransi dari bisnis ini tidak menggunakan mata uang konvensional, melainkan menggunakan mata uang khusus milik International Monetary Fund (IMF) yaitu Special Drawing Rights.

Sekarang ini, kurs 1 SDR sama dengan sekitar USD 1,5. Jadi bila dikonversi ke dalam mata uang Rupiah menjadi sebesar Rp 17.250 (asumsi 1 USD = Rp 11.500).

Penggantian tahap pertama

Berdasarkan Konvensi Montreal, pemberian santunan dari pihak maskapai kepada penumpang terbagi atas 2 tahap. Pertama adalah mereka wajib membayar ganti rugi sampai SDR 100 ribu atau sekitar Rp 1,725 miliar. Jumlah tersebut bisa berlaku kalau si korban meninggal dunia atau mengalami luka serta mendapat cacat tetap.

Perlu diketahui, penggantian tahap pertama ini sifatnya wajib. Jadi, pihak maskapai tidak boleh mengajukan keberatan atau banding.

Penggantian tahap kedua

Di bagian ini, pihak perusahaan diharuskan memberikan biaya hidup keluarga penumpang yang ditinggalkan. Hal ini ditujukan sebagai bentuk iktikad baik maskapai terhadap mereka.

Sebagai contoh, pada kasus jatuhnya pesawat Air France 447 di Samudra Atlantik pada 1 Juni 2009. Perusahaan memberikan tambahan santunan penggantian sebanyak USD 25 ribu atau Rp 287,5 juta. Namun, berbeda dengan tahap pertama, kali ini maskapai memiliki hak untuk menolak memberi biaya hidup kalau bisa membuktikan diri tidak bersalah atas insiden jatuhnya pesawat mereka.

Penggantian barang

Bersambung halaman 2..