LENSAINDONESIA.COM: Setelah banyak atlet mengalami cedera, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim akan menggandeng asuransi demi mencegah hal-hal tak diinginkan. Namun hal itu ternyata sangat sulit sehingga sampai saat ini KONI Jatim belum menemukan pihak asuransi yang tepat.

Melalui Ketua Harian KONI Jatim, Dhimam Abror Djuraid, bahwa rencana mengikutsertakan atlet dalam program asuransi memang sudah dipikirkan. Beberapa perusahaan asuransi sudah diundang untuk melakukan pembicaraan, namun belum ada yang cocok.

“Ketidakcocokan ini dikarenakan beberapa pihak asuransi memilah dan tidak memukul rata cabang olahraga yang dinaungi KONI Jatim. Cabor bela diri yang memiliki resiko cedera lebih besar, justru tak mau ditanggung pihak asusansi sehingga negosiasi menemui jalan buntu,” terangnya.

Dhimam Abror Djuraid juga menerangkan, asuransi kepada atlet sifatnya sangat penting. Apalagi menjelang pelaksanaan PON XIX Jabar 2016, karena selalu ada saja kejadian fatal yang melibatkan atlet.

Yang terbaru adalah insiden fatal yang dialami Aldinsyah Putra, atlet lompat tinggi. Ia mengalami kecelakaan fatal saat berlatih, Kamis (15/1/2015) lalu di KONI Jatim. Aldin sempat mendapat perawatan di RSU Haji yang lokasinya tak jauh dari KONI. “Kami minta rujuk di RSUD dr Soetomo dan semua biaya akan kami tanggung. Alhamdulillah hasil rontgen menunjukkan tak ada cedera parah. Tapi tetap saja atlet itu harus diobservasi selama 2×24 jam,” imbuh Dhimam Abror Djuarid.

Sebelum Aldin, atlet tenis meja Fando Adila juga menjalani operasi usus buntu. Sedangkan atlet skir air, Zahidi Putu mengalami cedera saat berlatih.

Menurut ahli hukum olahraga, dr Ahmad Yulianto SH, jika cedera atlet itu disaat berlatih maka yang bertanggung jawab adalah pengurus provinsi. “KONI Jatim tidak bertanggung jawab, hanya saja KONI bisa membantu atlet dan Pengprov dalam masalah dana atau lain sebagainya,” ujarnya kepada Lensa Indonesia. @angga_lensa