LENSAINDONESIA.COM: Pertunjukan kembang api jadi tontonan wajib tiap perayaan Tahun Baru, tak terkecuali Imlek. Namun, banyak pula menelan korban akibat tidak hati-hati menyalakan kembang api.

Tercatat ada 25 kecelakaan dan 22 orang terluka disebabkan oleh kembang api di Beijing. Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa jam yaitu mulai Rabu malam hingga Kamis dini hari. “Jumlah ini turun dari 14 persen dari tahun lalu, dan 24 persen dari tahun 2013 lalu,” kata Liu Zhi, pejabat setempat menguti Xinhua.

Sebanyak 83 ribu kotak kembang api sudah terjual di Beijing pada Rabu, berkurang 34 persen. Dan lebih dari 10 ribu kotak kembang api ilegal disita.

Akibatnya, saat ini Beijing dipenuhi dengan kabut asap dari kembang api. Kantor Biro Lingkungan kota mengatakan polusi asap dengan cepat bertambah muali dari 8 malam waktu setempat, hingga perayaan Imlek dan menyebabkan polusi berat.

Beijing mengerahkan 72 ribu pemadam kebakaran mulai Rabu pukul 6 sore hingga 8 pagi pada Kamis waktu setempat untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran.

Belasan kota di Cina sudah melakukan pembatasan penyalaan kembang api pada Rabu dan Kamis, sedangkan kota lainnya mengurangi jumlah penjual kembang api.  Warga juga mendapat pesan tertulis di ponselnya yang berisi saran untuk menyalakan kembang api. Pemerintah juga terus mengulang larangan ini di koran dan website.

Pada Rabu, langit cerah China diperkirakan akan mengalami polusi berat menyusul penyalaan kembang api. Polusi udara mungkin bertambah parah pada Jumat dengan kondisi berangin.

Namun, seorang penjual kembang api bermarga Yu masih melayani pembeli. Alasannya, tahun ini ia hanya mendapat izin berjualan selama 10 hari. Berbeda di tahun lalu, yang mana ia mendapat jatah berjualan 20 hari.

Kota Beijing mendapat tekanan untuk mengatasi polusi udara, yang merupakan paling polutif di China. Tahun lalu, otoritas Beijing mengungkap rencana mengurangi penggunaan batu bara pada 2020.

Sekitar 60 persen produksi energi dan 80 persen listrik di Cina masih bergantung pada batu bara. Presiden Xi Jinping berjanji menghentikan kenaikan emisi karbon paling lambat 2030. @sita