Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE DEMOKRASI

Bantah hajar saudara, bos onderdil minta dokter visum dihadirkan 

LENSAINDONESIA.COM: Sidang kasus penganiayaan yang melibatkan dua bersaudara kandung, bos onderdil Edi Yasin Alias Vincent (50), dengan Rudi Mulyadi (korban) memasuki babak baru. Pasalnya, terdakwa menganggap luka yang diderita korban ganjil alias tidak wajar, terdakwa pun meminta pada hakim agar menghadirkan dokter yang telah melakukan visum.

Permintaan kesaksian dokter yang memberikan keterangan visum ini terungkap dalam persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan korban Rudi Mulyadi. Namun terdakwa membantah semua yang diungkapkan oleh korban. “Saya tidak tahu dari mana asal empat luka yang ditunjukkan itu. Yang jelas, saya tidak melakukan pemukulan ataupun penganiayaan,” kelit bos onderdil ini sengit.

Melalui kuasa hukumnya, Tonic, Edi Yasin sejak awal menganggap luka-luka pada korban tersebut tidak disebabkan olehnya, maka ia pun meminta pada hakim agar menghadirkan saksi dokter yang memberikan keterangan visum.

Ia beralasan, jika korban menerangkan telah mengalami satu kali pukulan, mengapa pada visum yang ada justru diterangkan adanya empat luka. “Ini lah yang kami hendak ungkap. Mengapa sampai ada banyak luka pada saksi korban,” tegasnya.

Dalam sidang ini sendiri, selain mendengarkan keterangan saksi korban, jaksa juga menghadirkan saksi ayah dan ibu terdakwa. Dalam sidang yang cukup lama ini, keduanya juga mengakui tidak mengetahui pasti, terkait dengan timbulnya empat luka yang ada diwajah korban. “Yang jelas hidung dan mulutnya waktu itu mengeluarkan darah,” ujar Yusuf, ayah terdakwa.

Seperti diketahui, pada 16 Oktober 2014 lalu, terdakwa Edi Yasin memiliki perselisihan dengan saksi korban yakni Rudi Mulyadi, yang terhitung masih keluarganya. Awalnya, keduanya saling adu mulut hingga terjadi pemukulan yang dilakukan terdakwa di rumah Rudi di Jl Musi Surabaya.

Atas perbuatannya, JPU Suci Anggraeni mendakwa bos onderdil tersebut dengan pasal tunggal, yakni melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara.@ian