LENSAINDONESIA.COM: Sejak lulus dari Sekolah Dasar(SD) Kasi(50) sudah belajar meracik jamu tradisional hingga jamu racikannya telah dipercaya untuk suguhan wajib para Kepala Negara dan Duta Besar. Bahkan, Presiden RI Soeharto beserta istrinya Tien Soeharto dan Wakil Presiden Tri Soetrisno dibuatnya ketagihan untuk menikmati jamu racikannya.

Bagi sebagian orang minuman jamu merupakan minuman yang identik memiliki rasa yang pahit. Tapi jangan pernah takut untuk mengkonsumsi minuman tradisional asal negara Indonesia tersebut. Pasalnya, minuman yang diracik dari bahan rempah-rempah tersebut memiliki sejumlah khasiat salah satunya menyegarkan tubuh dan memberikan stamina usai kita mengkonsumsi.

Perempuan paruh baya kelahiran Wonogiri 21 April 1965 bertepatan hari Kartini ini dengan sabar dan ramah tengah melayani pembelinya satu persatu. Maklumlah perempuan yang mengenakan pakaian serba berwarna hijau tersebut tidak hanya menjual jamu saja, namun untuk menambah penghasilannya perempuan yang sudah dikaruniai satu orang cucu tersebut juga menyediakan nasi rames bagi pengunjung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang ingin bersantap siang.

Puteri keenam dari tujuh bersaudara pasangan almarhum Sonorejo dan Sinah, 90, mengatakan, sudah menekuni profesinya selama 33 tahun silam. Sejak menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar (SD) Waleng 1 Giri Marto tahun 1979, Kasi menghabiskan waktunyadengan membantu orang tuanya di Wonogiri.

Bermodalkan tekad dan kemauanlah menghantarkan Kasi ketika itu tengah berusia 17 tahun mengadukan nasibnya di Kota Metropolitan yakni Jakarta. Tinggal di rumah kontrakan sederhana di bilangan Kramatjati, dia bertekad berjualan jamu gendong untuk menyambung hidupnya.

” Saat itu, modal untuk berbelanja bahan-bahan pembuat jamu hanya Rp.2000, bahan dapat digunakan untuk empat hingga lima hari,”kata Kasi ketika ditemui LICOM di Tugu Api Pancasila TMII, Jakarta Timur, Minggu (8/3/15).

Menurutnya, resep membuat jamu diperolehnya dari kakaknya, itu juga hanya resep membuat jamu beras kencur saja. Kemudian dia pun belajar meracik sendiri dan membuat jamu dengan tetangganya yang berprofesi sebagai penjual jamu gedong. Selesai membuat jamu, perempuan yang dikaruniai dua orang anak putera dan puteri dari buah perkawinannya dengan Karmin ( 55) tersebut berkeliling untuk menawarkan jamu kepada pedagang di Pasar Induk Kramatjati.

Suatu saat, Kasi yang menawarkan jamu dengan berkeliling dari Pasar Rebo hingga Pasar Induk Kramatjati dengan berjalan kaki tidak mendapatkan satu orang pun pembeli. Beberapa jam kemudian baru mendapat satu orang pembeli sebagai penglaris.

” Saya sudah mau nyerah, bahkan mau pulang lagi ke kampung. Masak sudah berkeliling beberapa jam tidak ada pembeli untuk penglaris dan itu masih saya ingat terus sampai sekarang,” ujar Kasi sembari menuangkan jamu untuk salah satu pembelinya.

Dua tahun menjalani profesinya sebagai tukang jamu gendong cukup menyita tenaga. Setiap berjualan, sedikitnya enam liter jamu dia bawa berkeliling dengan menempuh jarak hingga puluhan Kilometer. Menurut dia, keuntungan yang dia peroleh mencapai Rp.250 setiap harinya. ” Jamu yang biasa kita bikin paling jamu beras kencur, wedang jahe, kunyit asem dan jamu pahitan serta jamu lainnya,”terangnya.

Pada tahun 1987 Kasi mencoba berjualan di tempat rekreasi Taman Mini Indonesia Indah yang saat itu baru diresmikan dan itu menjadi satu cara agar dapat merubah nasib serta peruntungannya. Sebagai perempuan yang dilahirkan dari keluarga yang masih memegang teguh adat Jawa dengan berani dia pun datang ke kantor pengelola TMII berniat untuk meminta izin.

Memperoleh izin untuk berjualan di TMII, Kasi biasa mangkal di Tugu Api Pancasila dan sesekali dia pun berkeliling di tiap anjungan-anjungan di TMII. Di sinilah pertemuan dirinya dengan almarhum istri Presiden kedua RI ibu Tien Soeharto. Sambil meminta satu gelas jamu, istri orang pertama di Indonesia itu pun menganggukkan kepalanya sembari berucap, enak, bagus, bagus, bagus ucap Ibu Tien sambil tersenyum,”kenang Kasi.

Kemudian, atas perintah almarhum Ibu Tien, Kasi diminta untuk mencari 25 orang penjual jamu gendong. ” Saya pun menyanggupinya, dan saat itu pula Paguyuban Jamu Gendong TMII pun resmi dibentuk oleh Ibu Tien tahun 1987 harinya Senin Legi dan saya menjadi ketuanya,” ujar dia.

Bak peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, ungkapan itu tepat untuk mengambarkan perjalanan hidup Kasi. Berjualan jamu gendong di tempat rekreasi telah merubah nasibnya. Bagaimana tidak, jamu racikannya kerap menjadi suguhan wajib untuk menyambut para Kepala Negara, Duta Besar dan tamu kehormatan Presiden Soeharto yang berkunjung di TMII.

” Sudah tidak terhitung berapa kali jamu buatan saya dipesan untuk menjamu tamu kehormatan Presiden Soeharto. Bahkan, Ibu Tien juga menjadi salah satu pelanggan tetap jamu buatan saya,” bebernya.

Kasi mengatakan, saat itu alm Soeharto menjabat Presiden Indonesia, dalam satu hari dirinya mampu menjual jamu tiga hingga lima bakul. Karena kedekatannya dengan istri orang nomor satu di negara ini, Kasi kerap memperoleh kesempatan membuka acara yang mengangkat tentang jamu menjadi minuman tradisonal di Pekan Raya Jakarta(PRJ).

” Kalau pak Harto dan pak Tri Soetrisno mau minum, jamu dicicipi juga oleh dokter pribadinya dulu. Setelah aman, baru mereka meminumnya,”ucapnya.

Bahkan, kata dia Wakil Presiden Tri Soetrisno menjadi pelanggan tetap jamu racikannya. Setiap hari Sabtu pagi, Tri Soetrisno memiliki hobi jogging selalu memborong jamu gedong miliknya. ” Satu bakul pasti habis. Kan pak Tri Soetrisno selalu mengajak ajudan dan pengawalnya untuk minum jamu buatan saya,” kata Kasi sembari tersenyum.

Masih menurut Kasi, Firman, putera pertama Tri Soetrisno pun mengemari jamu buatannya. Bahkan ketika mengikuti ayahnya lari pagi sambil bercanda Firman menanyakan, ” Ada jamu yang nggak bikin lupa penjualnya nggak,” ucap Firman. ” Saya jawab aja jamu pahitan mas, dua hari pahitnya nggak hilang-hilang, diikuti gelak tawa semua ajudan dan pengawal Tri Soetrisno yang tengah mengantri untuk minum jamu buatan saya,” cerita Kasi.

Satu pengalaman yang tidak pernah dilupakan juga, ujar dia adalah saat berjualan jamu di caping gunung TMII. Di sana dirinya didatangi oleh dua orang pembeli yang menggendarai mobil mewah, sambil bertanya-tanya keduanya kemudian memesan jamu buatan Kasi.

” Si bapak menanyakan modal jualan saya, saya jawab Rp.5000. Tiba-tiba saja orang tersebut memberikan uang sebesar Rp.10 ribu sambil berkata ” ini untuk modal jangan dibawa pulang, langsung saya belanjakan ke pasar ya? Saya pun menuruti permintaan orang tersebut, uang langsung saya belanjakan ke pasar,” ungkap Kasi bercerita lagi.

Perempuan yang kini tinggal di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung mengungkapkan, PJG TMII menjadi rintisan berdirinya Srikandi DKI. Srikandi DKI, menurut dia memiliki beberapa koordinator wilayah(Korwil) tersebar di wilayah DKI Jakarta, seperti Mampang, Kebon Nanas, Kebayoran, Pinang Ranti, Kampung Tengah, Condet, Lubang Buaya, TMII dan Pasar Rebo.

” Setiap bulan untuk menjalin silaturahmi sedikitnya 200 orang anggota Srikandi DKI, kita adakan arisan dan karawitan,” ujar perempuan yang kini mengelola katering makanan yang sudah berdiri sejak lima tahun yang lalu.@winarko