LENSAINDONESIA.COM: Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) terus menuntut pemerintah melakukan pengurangan impor gula. Berdasarkan data, jumlah kebutuhan konsumsi gula masyarakat Indonesia dalam setahun hanya sekitar 4,5 juta ton.

Dari kebutuhan itu, produksi gula kristal putih dari tebu petani mampu memenuhi 2,5 juta. Sisanya sebanyak 2 juta ton dipenuhi dari impor gula mentah yang diolah menjadi gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman.

Ketua APTRI, Arum Sabil menilai, dengan melihat kapasitas terpasang 11 pabrik gula (PG) rafinasi di Indonesia mencapai 5 juta ton, maka masih tersisa 3 juta ton gula rafinasi dalam setahun.

“Jika kapasitas terpasang di 11 PG gula rafinasi terpenuhi, maka kita akan ada surplus 3 juta ton gula. Kalau ini terus terjadi, maka Indonesia bisa alami tsunami gula,” katanya di Surabaya, (17/03/2015).

Sementara, pemerintah era Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) saat ini menarget Indonesia bisa melakukan swasembada gula. Namun, program tersebut bakal sulit tercapai jika impor gula mentah untuk bahan rafinasi masih terus dilakukan. “Swasembada gula hanya bisa dilakukan dengan memperbaiki sistem on farm dan off farm,” ungkapnya.

Dijelaskan, dari aspek on farm, sejak proses tanam tebu sudah bisa dilakukan dengan memudahkan distribusi pupuk bagi petani, program bongkar ratoon dengan mengganti tebu baru dan menentukan varietas tebu sesuai kondisi lahan.

Untuk aspek off farm, yakni dilakukan pasca panen dengan revitalisasi PG yang terintegrasi agar capaian rendemen bisa meningkat.

Pihaknya menyebut, jika rendemen bisa mencapai 10 persen, maka produksi gula akan lebih meningkat. Selain itu, kesejahteraan petani bertambah, serta harga gula petani bisa ikut bersaing.

“Jika rendemen gula kita tinggi, maka harga gula bisa lebih murah dan bisa punya daya saing dengan harga gula dunia. Apalagi di akhir tahun ini dijalankan pasar bebas ASEAN, kalau harga di luar lebih murah, maka produknya bisa membanjiri pasar kita. Kita tidak bisa menghindar, tapi bisa menyiapkan diri agar gula petani kita punya daya saing,” tegasnya.

Karena itu, Arum menagih janji Presiden Jokowi yang bersedia merevitalisasi PG dan membatasi kuota impor gula mentah untuk industri makanan dan minuman.

“Kalau perlu diaudit berapa banyak kebutuhan rafinasi bagi industri makanan dan minuman. Jangan sampai lebih dan merembes ke pasar, sehingga gula petani tidak laku,” tambah Arum.@sarifa