LENSAINDONESIA.COM: Nenek Asyani, tak menyangka dirinya akan terjerat hukum karena memiliki tujuh batang kayu jati. Peninggalan suaminya itu mengantarnya menghadapi tuntutan Perhutani dengan tuduhan pencurian ilegal.

Nenek Asyani tinggal di sebuah rumah berukuran 4 x 6 meter. Rumah ini tak punya kamar kecil dan dibangun dengan sebagian terbuat dari batu dinding bata dan sebagian lagi terbuat dari papan kayu triplek. Rumah itu hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tamu dan dapur, yang terbuat dari anyaman rotan. Tak ada kompor namun hanya ada tomang, tungku dari batu bata.

Kamar kecilnya ada di luar dekat dapur. Namun tak bisa dimanfaatkan karena Asyani tak punya uang untuk memugarnya.

Di ruang tamu, ada satu lemari kecil. Satu karpet berwarna biru kusam dan tikar. Asyani terlihat tidur di atas ranajng. “Itu pun ranjang pemberian orang lain,” kata Syuaib, anak ketiga Asyani.

“Ibu saya adalah orang paling kaya sedunia,” tambah Syuaib, tersenyum. Syukur tersenyum pula mendengar ucapan sang adik ipar.

Nenek Asyani selama ini memang dikenal sebagai tukang pijat anak. Dari sekali memijat, ia diupah Rp 5.000 saja.
Asyani biasa hidup sendiri di rumah dan mencari nafkah sendiri, sejak sang suami Sumardin meninggal dunia.

Empat orang anaknya tinggal di tempat lain, yang paling dekat adalah Linda, putri keduanya, yang tinggal di belakang rumah. Empat anak Asyani tahu kondisi sang ibu namun mereka juga terjerat kemiskinan dan tak berdaya untuk membantu.

Sebagaimana dilansir media, Perhutani melaporkan, Asyani ikut mencuri 38 papan kayu jati dari kawasan hutan produksi Perum Perhutani Resor Pemangkuan Hutan Jatibanteng, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Besuki, Sub-Kesatuan Pemangkuan Hutan Bondowoso Utara, Kesatuan Pemangkuan Hutan Bondowoso.

Padahal, menurut Asyani ia memperoleh kayu jati itu dari suaminya. Tujuh batang kayu jati itu disimpan di rumah hingga suaminya meninggal dua tahun lalu. Lahan tempat kayu jati ditebang juga tak lagi milik Asyani karena dibeli seseorang. “Lahan itu dulu masih atas nama ibu saya. Kalau sekarang, (lahannya) sudah dijual ke
orang,” aku nenek Asyani.

Setelah bertahun-tahun, nenek Asyani berencana memanfaatkan kayu itu untuk menjadi kursi. Ia menyampaikan rencana ini pada anak-anaknya. Menantunya, Ruslan akhirnya memindahkan kayu dari rumah ke rumah Cipto. Bonggol kayu berdiameter 15 centimeter dan panjang 1,5 meter itu diangkut dengan pick up yang disopiri Abdus Salam.

Di rumah tukang kayu, kayu-kayu itu ditumpuk. Tak dinyana, 14 Juli 2014 ada petugas Perhutani melakukan patroli.
Asyani pun dituduh melakukan kegiatan ilegal, sehingga harus diamankan. Perhutani juga bertindak jauh dengan melaporkan kejadian itu kepolisian dengan tuduhan pencurian.

Asyani membantah kayu-kayu yang dihadirkan di pengadilan bukanlah miliknya. “Saya terkejut kenapa kayu saya berubah, itu bukan milik saya. Saya tidak bohong. Saya kenal dengan kayu saya,” ujarnya.

Ia akan membuktikan bahwa kayunya tidak sebagus seperti yang diajukan dalam persiadangan. Ia berencana menunjukkan sisa kayu yang diambil dulu. Kayu miliknya jelek dan lapuk, ukurannya juga kecil. “Tapi saya
tak bisa melawan,” katanya.

Kasusnya mendapatkan perhatian media massa.

Sejumlah tokoh mengkritik langkah Perhutani yang serampangan memproses hukum nenek berusia 63 tahun itu. Di pengadilan, nenek Asyani sempat menyembah majelis hakim sembari sesenggukan minta dibebaskan. Dalam persidangan
terakhir, kesehatannya memburuk dan membuat nenek Asyani pingsan.

Penahanannya ditangguhkan.

Nenek Asyani akhirnya pulang ke rumahnya di Desa Jatibanteng di pelosok pegunungan Situbondo Barat, setelah sempat tiga bulan ditahan di Rutan Situbondo. Hari ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, mengunjungi Asyani di rumahnya, bersama Bupati Situbondo Dadang Wigiarto dan sejumlah pejabat.

Dia terlihat langsung menuju kamar tempat Asyani terbaring sakit. Begitu masuk ke dalam kamar, Nurbaya langsung menyapa Asyani dan menghiburnya. Pertemuan penuh haru pun terjadi.

“Guleh minta ampunan Bu. Guleh minta bebas. Guleh tak endik pesse Bu, dek berek dek temor, (Saya minta ampun, Bu. Saya minta bebas. Saya sudah tidak punya uang untuk sidang),” pinta Asyani kepada Nurbaya sambil menangis dalam bahasa Madura.

Kondisi kesehatannya saat ini memang makin memburuk. Ia enggan makan bila mengingat kasus hukum yang dihadapinya.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember Prof. Widodo Eka Tjahyana menilai Asyani layak bebas murni. Pihaknya memberikan perhatian solidaritas dengan mengerahkan mahasiswa Fakultas Hukum dengan mempertunjukkan teaterikal tumpulnya penindakan hukum terhadap kasus-kasus yang ada.

Apalagi ada kesan hukum tajam ke masyarakat bawah dan tumpul ke masyarakat elit.

“Analisa kami, berdasarkan kemanusiaan dan keadilan melihat bukti material yang sudah dibeber di pengadilan, memang nenek Asyani sudah layak diberikan kebebasan,” katanya.

Rachmawati Soekarnoputri bahkan bersuara lebih lantang. Ia menyebut kaum miskin seperti Asyani dan Minah yang dituduh mencuri kakao harus masuk penjara. Hal ini berbeda dengan orang-orang besar. Semua cara dilakukan sehingga tak bisa menyentuhnya. Misalnya, Komjen Budi Gunawan yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Bandingkan yang punya rekening gendut dan aset berlimpah dari Praperadilan, Kejagung sampai Jokowi ramai-ramai turun tangan membela koruptor,” tegasnya.

“Nauzubillah min dzalik! Bumi dan langit antara nenek-nenek miskin dengan BG yang berkantong tebal perlakuan penegak hukum dan hukum di negeri ini. Ternyata hukum hanya untuk si miskin. Si kaya tidak tersentuh oleh hukum. Dimana keadilan?” katanya mempertanyakan. @sita/bbs