LENSAINDONESIA.COM: Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Tri Didik Adiono, meminta oknum pengurus Pasar Sememi diberi sanksi tegas lantaran diduga menjual stan senilai Rp 25 juta hingga Rp 40 juta. Padahal, pasar tersebut dibangun Pemkot Surabaya.

“Pesan saya kepada pedagang, oknum pengurus Pasar Sememi yang menjual stan segera dilaporkan polisi karena itu sudah masuk pidana,” ujar Tri Didik Adiono saat hearing dengan pedagang Pasar Sememi, pengurus Pasar Baru Sememi dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, Jumat (17/4/2015).

Politisi fraksi PDI Perjuangan ini meminta kepada pengurus pasar agar Pasar Baru Sememi diprioritaskan untuk pedagang Pasar Sememi yang stannya terkena pelebaran jalan. “Selain itu, stan Pasar Baru Sememi diprioritaskan kepada pedagang asli Surabaya,” sambung Tri Didik Adiono.

Ketua Pengurus Pasar Baru Sememi, Mujiono, memastikan tidak ada jual beli stan. Dia berjanji, jika ada oknum pengurus yang memperjualbelikan stan Pasar Baru Sememi akan dijatuhi sanksi tegas. “Memang ada yang mau beli stan disana, tapi saya tolak, saya katakana stan Pasar Baru Sememi tidak dijual,” katanya.

Sudarwanto, pedagang Pasar Sememi yang stannya digusur mengaku sedikitnya 390 pedagang dipaksa pindah ke Pasar Baru Sememi yang lokasinya di belakang Pasar Sememi. Pemindahan tersebut disertai dengan paksaan dan intimidasi oleh oknum pengurus pasar. “Kita semua tahu fasilitas penerangan dan listrik tidak ada, padahal kita mulai berjulan dari jam 2 malam,” tuturnya.

Lurah Sememi Mustofa mengungkapkan masalah jual beli stan sempat menjadi gejolak beberapa waktu lalu. Namun, gesekan antar pedagang dan pengurus pasar berhasil ditangani setelah berunding lama. Hasil dari perundingan itu menyepakati pedagang lapak lama sementara tidak dibongkar dan tidak dipindah sebelum ada perintah dari Pemkot Surabaya. “Para pengurus tidak boleh menambah stan baru dan melarang pedagang liar berjualan disana,” terangnya.@iwan