LENSAINDONESIA.COM: Raperda tentang pasar tradisional yang sedang dibahas Komisi B DPRD Surabaya akan memisahkan antara pasar grosir dan tradisional. Rencana ini dilakukan karena kedua jenis pasar tersebut sangat berbeda. Usulan itu terlontar dalam pembahasan yang dilakukan dengan Pemkot Surabaya, Senin (27/4/2015).

Menurut Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Mazlan Mansyur, dalam draft pembahasan memang Pemkot Surabaya tidak mencantumkan usulan tersebut. Pihaknya mengkritisi kinerja Pemkot yang tidak memisahkan antara pasar grosir dengan pasar ritel (eceran) yang disebutkan di dalam draft pasar tradisional. Sebab menurutnya, jika tidak ada pemisahan antara pasar grosir dengan pasar ritel, ditakutkan akan timbul masalah.

“Ini berbeda dengan yang dimasukkan pertama kali, kalau ini tidak tegas memklasifikasikannya. Takutnya nanti akan ricuh di lapangan. Karena ini tidak bisa disamakan dengan toko swalayan, kita harus bisa pisahkan mana yang pasar ritel dan mana yang grosir. Untuk sistematisnya nanti kita akan bahas kembali,” ungkapnya Mazlan Mansyur.

Hal senada dilontarkan Wakil Ketua Pansus Raperda Pasar Tradisional, Khusnul Khotimah. Politisi asal fraksi PDIP tersebut mengatakan, memang dalam pembahasan Raperda pasar tradisional masih banyak data yang belum dimasukkan. Misalnya, seperti definisi pasar grosir yang masih belum dijelaskan.

“Jadi ini kami akan bahas mulai awal lagi. Kalau dalam 30 hari kerja belum selesai, ya akan diperpanjang lagi. Jadi ada lima isu. Pertama, revitalisasi, sosial ekonomi, pemisahan pasar grosir, persetujuan pimpinan DPRD, dan perencanaan pemerintah kota,” tegasnya.

Sementara itu, bagian hukum Pemkot Surabaya, Risky G Bastian menjelaskan, jika Pansus Raperda pasar tradisional menginginkan ada pemisahan antara pasar grosir dengan pasar tradisional, itu sah saja. Namun, yang harus diperhatikan sekarang adalah mengatur letak lokasinya.

“Kalau memang keinginan dewan seperti itu, ya berarti yang nanti yang harus dipikirkan adalah mengatur lokasinya. Karena kalau tidak begitu kasiha pedagang yang berjualan secara eceran, karena nanti konsumen larinya akan ke pasar induk semua,” pungkasnya.@iwan