LENSAINDONESIA.COM: Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi tetap ngotot melarang Persebaya Surabaya untuk mengikuti kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2015.

Kebijakan itu dibuat atas rekomendasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) sesuai surat bernomor 051/BOPI/KU/TV/2015 kepada CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono.

Pada awalanya, Persebaya tidak direkomendasi mengkuti liga nasional karena alasan persoalan legalitas. Ya, tim kebanggaan Arek Suroboyo itu dianggap mempunyai dua kepemilikan legalitas.

Bukan hanya Persebaya Surabaya, Arema Cronus juga mendapat perlakuan serupa, dilarang tampil dalam kompetisi ISL.

Badan olahraga bentukan Menpora Imam Nahrawi itu juga menganggap dua klub  yang dikenal memiliki suporter fanatik ini punya masalah warisan masa lalu yang belum terselesaikan oleh PSSI.

Membahas soal legalitas Persebaya, selayaknya para pihak, perlu melihat sejarah.

Seperti diketahui, Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni 1927, dengan nama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Dalam perjalanannya, hingga tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Dan pada tahun 1960, pada era perserikatan, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya).

Gejolak dan gonjang-ganjing Persebaya dimulai saat Persebaya dipimpin Bambang Dwi Hartono dengan Manajer Saleh Ismail Mukadar. Saat itu pada kompetisi tahun 2005, Persebaya menyatakan mundur dalam babak 8 besar, yang mengakibatkan Persebaya mendapat sanksi dari PSSI berupa sanksi Degradasi ke Divisi Satu. (awalnya diskorsing dua tahun, namun dikurangi menjadi 16 bulan, dan kemudian dikurangi lagi menjadi degradasi ke Divisi Satu).

Bambang DH selaku Ketua Umum Persebaya diskorsing 10 tahun. Sedangkan Manajer Persebaya saat itu, Saleh Ismail Mukadar, diskorsing 2 tahun.

Kedua orang inipun lantas meninggalkan Persebaya dalam keaadaan terpuruk berada di kompetisi amatir, Divisi Satu. Beruntunglah ada Arif Afandi yang akhirnya bersedia menjadi Ketua Umum Persebaya untuk menjalani kompetisi Divisi Satu. Dan pada 2006, Persebaya berhasil menjadi Juara Divisi Satu, dan Promosi ke Divisi Utama.

Namun pada kompetisi Divisi Utama tahun 2007, Persebaya berada di posisi ke-14, Wilayah Timur, sehingga tidak lolos ke Super Liga, dan harus kembali kelas di Divisi Utama.

Namun rupanya ada pihak yang tidak puas, dan meminta Arif Afandi mundur. Arif pun mundur, dan digantikan Saleh Ismail Mukadar. Mantan Manajer Persebaya yang pernah diskors dua tahun dan membawa Persebaya terpuruk ke Divisi Satu.

Pada kompetisi Divisi Utama 2008, Persebaya di bawah Saleh Ismail Mukadar, berada di peringkat ke-4. Mengalahkan PSMS Medan dalam babak Playoff lewat drama adu penalti. Kemudian, secara otomatis Persebaya lolos ke Indonesia Super League (ISL).

Untuk mengikuti ISL, dalam statuta PSSI, klub peserta disyaratkan berbadan hukum dan tidak menerima APBD. Oleh karena itu, Persebaya di bawah Saleh Ismail Mukadar, mendirikan badan hukum yang bernama PT Persebaya Indonesia. Dengan komposisi saham, 80 persen perorangan (yang terdiri dari Saleh Ismail Mukadar 55% dan Cholid Goromah 25%), sisanya 20 persen milik Koperasi Mitra Surya Abadi, dimana sahamnya dipercayakan kepada Suprastowo.

Terdaftarlah Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia di Badan Liga Indonesia sebagai klub profesional peserta kompetisi Indonesia Super League. Saat itu pula Saleh Ismail Mukadar menerima dana Rp 11 miliar lebih dari APBD Kota Surabaya untuk menjalankan klub ini. Maklum saat itu Saleh dikenal sebagai orang dekat Walikota Bambang Dwi Hartono. Sehingga, meskipun Persebaya telah berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) tetap saja mendapat dana hibah dari APBD Pemkot Surabaya.

Namun, meski telah digelontor uang APBD belasan miliar, tetap saja Persebaya tidak berprestasi. Pada kompetisi 2009, Persebaya kembali terdegradasi ke Divisi Utama. Saleh Ismail Mukadar saat itu berdalih, bahwa hasil yang diterima Persebaya adalah akibat ketidakbecusan dan kesewang-wenangan pengurus PSSI Pusat.

Karena itu, Saleh Ismail Mukadar saat itu menyatakan tidak akan mengikuti kompetisi PSSI tahun berikutnya, yakni kompetisi 2010/2011.

Penolakan untuk mengikuti kompetisi PSSI tentu dapat dianggap sebagai pelanggaran Statuta PSSI. Mengingat dalam Statuta jelas disebutkan bahwa kewajiban anggota PSSI (dalam hal ini klub) adalah mengikuti kompetisi yang digelar PSSI.

Akibat penolakan Saleh Ismail Mukadar untuk mengikuti kompetisi PSSI tahun 2010, maka status Persebaya yang terdaftar melalui PT. Persebaya Indonesia pada 2009, sebagai klub anggota PSSI Pusat terancam dikeluarkan dari keanggotaan. Seperti terjadi pada Persema dan Persibo yang memilih tidak mengikuti kompetisi PSSI dan memilih mengikuti kompetisi di luar PSSI atau breakaway league, yang saat itu bernama Liga Primer Indonesia (LPI).

Menyusul penolakan tersebut, Saleh Ismail Mukadar yang juga Ketua Pengurus Cabang PSSI Kota Surabaya mendapat sanksi dari Komisi Disiplin Pengurus Provinsi PSSI Jawa Timur berupa pembekuan Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Kota Surabaya.

Caretaker Pengcab PSSI Kota Surabaya akhirnya memilih Wishnu Wardhana sebagai Ketua Pengcab PSSI Kota Surabaya Muscablub pada 7 Juni 2010.

Setelah Wishnu Wardhana terpilih sebagai Ketua Pengcab PSSI Kota Surabaya, sejumlah pengurus klub anggota Persebaya meminta Wishnu Wardhana selaku Ketua Pengcab PSSI Kota Surabaya agar menyelamatkan Persebaya dari ancaman pencoretan dari keanggotaan PSSI Pusat dengan jalan membentuk kepengurusan Persebaya yang baru, sekaligus membentuk tim Persebaya dengan tujuan untuk menyiapkan dan mengikuti kompetisi di level Divisi Utama yang diselenggarakan PSSI.

Akhirnya, upaya sejumlah pengurus Persebaya itu membuahkan hasil. PSSI mengakui kepengurusan baru Persebaya di bawah kepemimpinan Wishnu Wardhana. Sehingga pada kompetisi 2010, Persebaya tercatat sebagai peserta wilayah III Kompetisi Divisi Utama.

Atas hal itu, Persebaya terselamatkan dari sanksi pemecatan dari keanggotaan PSSI, seperti  diberikan kepada Klub Persema Malang dan Persibo Bojonegoro, yang nyata-nyata menolak mengikuti kompetisi PSSI dan memilih mengikuti kompetisi di luar PSSI, yaitu kompetisi LPI.

Saleh Ismail Mukadar, bukannya berterima kasih kepada Wishnu Wardhana yang telah menyelamatkan Persebaya dari pencoretan keanggotaan PSSI, tetapi malah mendirikan klub baru yang diberi nama Persebaya 1927 untuk ikut berkompetisi di breakaway league LPI (Liga Primer Indonesia).

Mengapa disebut klub baru, sebab pada Februari 2011, sesaat setelah didaftar di LPI, Persebaya pimpinan Saleh Ismail Mukadar ini tidak bisa mendapat ijin kegiatan dari negara, dalam hal ini kepolisian, dengan alasan tidak boleh ada dua klub dengan nama yang sama. Persebaya dan Persebaya. Satunya Persebaya anggota PSSI yang diketuai Wishnu Wardhana, dan satunya Persebaya yang keluar dari PSSI yang diketuai Saleh Ismail Mukadar.

Alhasil, Saleh Ismail Mukadar mendirikan klub baru yang bernama Persebaya 1927, dengan logo yang berbeda dengan Persebaya Surabaya yang sebelumnya.

Sejak saat itulah, lahir sebuah klub baru bernama Persebaya 1927, yang diakui oleh Saleh Ismail Mukadar saat itu sebagai tim sepakbola modern di luar PSSI dan mengikuti kompetisi yang lebih baik, yakni di Liga Primer Indonesia (LPI).

Saleh Ismail Mukadar bersama  Cholid Goromah mengusung semua pemain dan official tim Persebaya ke dalam Persebaya 1927 untuk mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).

Sebaliknya Wishnu Wardhana yang sudah menjalankan Persebaya Surabaya sebagai peserta Divisi Utama menghadapi kenyataan pahit yakni tidak memiliki pemain dan official tim. Atas bantuan pegiat sepakbola Vigit Waluyo, Wishnu Wardhana mendapatkan skuad pemain dari mantan skuad Persatuan Sepakbola Kutai Barat (Persikubar).

Kompetisi pun berjalan. Tim yang dipersiapkan mendadak dan asal-asalan tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Hasilnya, Persebaya tidak mampu promosi ke ISL, dan harus mengulang di kasta Divisi Utama.

Publik pun kecewa dengan Wishnu Wardhana. Suporter setia Persebaya mulai meninggalkan Persebaya Surabaya. Mereka beralih menyaksikan pertandingan Persebaya 1927 di kompetisi LPI. Wishnu pun angkat tangan. Tak kuat melunasi gaji para pemain. Nasib klub Persebaya makin terpuruk dan hancur.

Namun angin segar kembali menyapa Persebaya. Sebuah perusahaan di Surabaya melirik Persebaya, dan siap mendanai dan merangkul Wishnu Wardhana. Gaji pemain pun dilunasi dan siap untuk menyongsong kompetisi berikutnya. PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) yang dipimpin Diar Kusuma Putra, inilah yang menyelamatkan keuangan Persebaya kala itu.

Semua tunggakan gaji klub terhadap para pemain mantan skuad Persikubar itu dilunasi, dan kontrak diputus. Era baru Persebaya dimulai lagi. Wishnu kembali sibuk menyiapkan pemain. Kali ini tidak instan seperti sebelumnya. Satu per satu pemain mengikuti seleksi.

Sementara itu, di belahan yang lain, Persebaya 1927 untuk sementara berhenti merumput. Karena kompetisi LPI ternyata berhenti di tengah jalan. Hanya setengah musim. Maklum kompetisi tersebut hanya digunakan sebagai alat perjuangan menurunkan Nurdin Halid, sebagai Ketua Umum PSSI. Dan setelah gerakan anti-Nurdin membesar kompetisi LPI pun dihentikan sementara.@ridwan_LICOM/bbs/Bersambung