Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE DEMOKRASI

Ada yang istimewa dalam sidang penganiayaan adik-kakak di PN Surabaya 

LENSAINDONESIA.COM: Ada yang beda dalam sidang kasus penganiayaan adik-kakak, Rudi Mulianto VS Edi Jasin, di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (12/5/2015).

Persidangan kasus ‘kecil’ ini sepertinya bagai kasus besar. Terdakwa Rudi Mulianto bak selebritis, hampir semua agenda persidanganya disorot media, mulai cetak, online maupun televisi lokal.

Bahkan pria pengusaha ini kerap mendapat fasilitas istimewa dari penegak hukum, mulai dari jam persidangan yang dibedakan dari tahanan lainnya (sidang pagi), bahkan pernah juga tidak mengenakan rompi tahanan seperti terdakwa kasus lain saat menjalani persidangan.

Selain itu, ruang sidangpun juga tampak berbeda dari persidangan lainnya. Hal itu bisa dilihat dari para hakim, pengacara dan penasehat hukum yang menggunakan microphone yang tersedia pada masing-masing mejanya.

Bahkan, hakim tak pernah menegur prilaku terdakwa penganiayaan dan pengerusakan ini selama persidangan digelar. Ketika itu Rudi MUlianto terlihat duduk dengan menyedekapkan kedua tangannya, seperti menganggap enteng kasus yang dihadapinya ini.

Sekedar diketahui, perkara ini merupakan buntut dari saling lapor. Sebelumnya terdakwa Rudi Mulianto melaporkan kakak kandungnya, Edi Jasin alias Vincen dalam kasus penganiayaan. Dan oleh Hakim PN Surabaya, Edi Jasin
divonis 2 bulan 10 hari.

Dijelaskan dalam dakwaan, peristiwa saling mengklaim sama-sama dianiaya ini terjadi pada 16 Oktober 2013 lalu. Saat itu kedua orang tua mereka dan terdakwa Rudi Mulianto mendatangi rumah yang ‘gono gini’ yang dibuat kantor oleh saksi Edi Jasin di Jl Musi 40 Surabaya dan meminta mengosongkannya.

Namun saksi Edi Jasin menolaknya dengan dalih rumah tersebut telah diwariskan padanya. Sontak, hal itu membuat terdakwa Rudi Mulianto naik pitam. Lantas, terdakwa menarik kerah baju korban dan memukul korban yang mengenai beberapa bagian dari tubuh korban.

Setelah sempat jatuh akibat didorong, terdakwa mengambil telepon jenis wareless yang berada di meja kantor dan melempar ke arah korban. Namun lemparan itu tak mengenai korban dan cuma mengenai dinding tembok hingga menyebabkan wareless itu rusak.

Sambil marah-marah, terdakwa kembali mengambil kursi tamu dan melemparkannya ke arah pintu masuk yang berbahan kaca hingga menyebabkan kursinya rusak, kacanya tergores dan dinding temboknya gumpil dan cat temboknya terkelupas.

Atas perbuatannya, jaksa mendakwa Rudi MUlianto yang tinggal di Jl Kartini 35 Surabaya ini dengan pasal berlapis. Pada dakwaan pertama, terdakwa dianggap melanggar pasal pasal 351 ayat 1 tentang penganiayaan, dan pada dakwaan kedua, dia didakwa melanggar Pasal 406 ayat 1 tentang pengerusakan.@ian