LENSAINDONESIA.COM: Undang-undang yang mengatur pengecualian terhadap pelaku yang masih di bawah umur, dapat dimanfaatkan dan bandar Narkoba untuk direkrut. Mereka akan dijadikan kurir serta bagi pelaku tidak kriminalitas lainnya mengingat kekhususan yang diberikan.

Direktur Eksekutif Hotline Surabaya dr Esthi Susanti mengatakan, anak perempuan di bawah umur sangat rentan dijadikan budak narkoba. Setelah itu, mereka akan mengarah jadi korban penjualan anak (traffiking) serta seks bebas.

“Anak perempuan pada usia 12-15 tahun ini sangat rentan pada pergaulan bebas, dimana ini akan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” terang Esthi ditemui di sela-sela pelatihan Keterampilan Hidup Menghadapi Masa Remaja bersama Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya, di Hotel New Grand Park, Surabaya baru-baru ini.

“Kebanyakan dari mereka yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan narkoba, karena kurnag perhatian dari orang tua, lingkungan dan salah memilih teman disekolah,” tambahnya.

Esthi menjelaskan lebih lanjut, bahwa anak perempuan yang terjerumus ke narkoba, tak membutuhkan waktu lama mengalami ‘kerusakan’. Yaitu akan mengalami kerusakan psikis cukup fatal hanya dalam waktu 38 hari.

Sementara Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti mengatakan, narkoba di kalangan anak sekolah, sudah sangat memprihatinkan. Bahkan anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD) sudah ada yang kecanduan.

“Kita sangat prihatin dengan generasi bangsa yang terjerat dalam narkoba. Elemen masyarakat harus peduli dalam melakukan pencegahan,” terang Suparti.

“Yang sangat memprihatinkan saat ini, mereka mengaku menggunakan narkoba bukan sebagai korban tapi gaya hidup. Ini sudah persoalan yang sangat komplek,” pungkasnya.@rofik