Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE DEMOKRASI

Aniaya kakak kandung, pengusaha hanya divonis tiga bulan penjara 

LENSAINDONESIA.COM: Rudi Mulianto terdakwa penganiayaan dinyatakan terbukti bersalah dan diganjar hukuman tiga bulan penjara oleh majelis hakim PN Surabaya, Kamis (28/5/2015).

Dalam amar putusannya, Hakim Musa menolak semua pembelaan yang diajukan terdakwa melalui tim pengacaranya pada persidangan sebelumnya dan sependapat dengan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tri Murdiyanti dan Sabetania Paembonan dari Kejati Jatim.

Dijelaskan dalam amar putusannya, penganiayaan bukan hanya menimbulkan luka pada korban tetapi juga dapat menimbulkan perasaan tidak enak yang berdampak pengaruh psikis yang dialami korban, sehingga majelis hakim berpendapat perbuatan terdakwa sudah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP.

Selain itu, majelis hakim tidak membuktikan unsur pelanggaran pasal kedua yang didakwakan jaksa yakni melanggar pasal 406 KUHP tentang pengerusakan, mengingat dakwaan jaksa merupakan dakwaan alternatif. “Menghukum terdakwa dengan hukuman tiga bulan penjara dikurangi selama terdakwa menjalani penahanan,”ucap Hakim Musa saat membacakan amar putusannnya.

Meski tergolong ringan, namun terdakwa dan tim pembelaanya tak begitu saja menerima vonis hakim, mereka menyatakan pikir-pikir. Jaksa pun juga menyatakan putusan yang sama, juga belum menyatakan sikap menerima.

Ditemui usai sidang, terdakwa Rudi Mulianto mengaku akan mengajukan banding. “Saya akan kejar keadilan sampai kemanapun, jaksa akan saya laporkan,”ucapnya saat dikonfirmasi.

Sementara Jaksa Tri Murdiyanti dan Sabetania menyatakan siap mengahadapi, jika dikemudian hari dilaporkan terdakwa. “Silahkan, dan kami sudah bisa membuktikan dakwaan kami,”ujar dua jaksa wanita ini seraya meninggalkan gedung PN Surabaya.

Ada yang menarik dalam perkara ini, persidangan kasus ‘kecil’ ini sepertinya bagai kasus besar seolah-olah terdakwa Rudi Mulianto bak selebritis. Hampir semua agenda persidanganya disorot media, mulai cetak, online maupun televisi lokal.

Bahkan pria pengusaha ini kerap mendapat fasilitas istimewa dari penegak hukum, mulai dari jam persidangan yang dibedakan dari tahanan lainnya (sidang pagi) , bahkan pernah tidak menggunakan rompi tahanan.

Selain itu, ruang sidangpun juga tampak berbeda dari persidangan lainnya. Hal itu bisa dilihat dari para hakim, pengacara dan penasehat hukum yang menggunakan microphone yang tersedia pada masing-masing mejanya.

Bahkan, hakim tak pernah menegur prilaku Rudi Mulianto selama persidangan ini digelar, dia terlihat duduk dengan menyedekapkan kedua tangannya bak seperti melihat enteng kasus yang dihadapinya ini.

Seperti diketahui, perkara ini merupakan buntut dari saling lapor. Sebelumnya terdakwa melaporkan kakak kandungnya yakni Edi Jasin alias Vinsen yang telah menganiayanya. Dan oleh Hakim PN Surabaya, Edi Jasin divonis 2 bulan 10 hari.

Dijelaskan dalam dakwaan, peristiwa saling mengklaim sama sama dianiaya ini terjadi pada 16 Oktober 2013 lalu. Saat itu kedua orang tua mereka dan Rudi Mulianto mendatangi rumah ‘gono gini’ yang dibuat kantor oleh saksi Edi Jasin di Jl Musi 40 Surabaya dan meminta mengosongkannya.

Namun, saksi Edi Jasin menolaknya dengan dalih rumah tersebut telah diwariskan padanya. Sontak, hal itu membuat Rudi Mulianto naik pitam. Lantas, terdakwa menarik kerah baju korban dan memukul korban yang mengenai beberapa bagian dari tubuh korban.

Setelah sempat jatuh akibat didorong, Rudi Mulianto mengambil telepon jenis wareless yang berada dimeja kantor dan melempar kearah korban, namun lemparan itu tak mengenai korban dan cuma mengenai dinding tembok hingga menyebabkan wareless itu rusak.

Sambil marah-marah, terdakwa kembali mengambil kursi tamu dan melemparkannya ke arah pintu masuk yang berbahan kaca hingga menyebabkan kursinya rusak, kacanya tergores dan dinding temboknya gumpil dan cat temboknya terkelupas.

Atas perbuatannya, jaksa mendakwa terdakwa yang tinggal di Jl Kartini 35 Surabaya ini dengan pasal berlapis. Pada dakwaan pertama, terdakwa dianggap melanggar pasal pasal 351 ayat 1 tentang penganiayaan, dan pada dakwaan kedua, dia didakwa melanggar Pasal 406 ayat 1 tentang pengerusakan.@*/ik