LENSAINDONESIA.COM: Pertamina EP dan Paguyuban Penambang Tradisional langsung melakukan sosialisasi pengambilalihan pengelolaan sumur minyak tua di wilayah Wonocolo, Kabupaten Bojonegoro yang berlaku efektif mulai hari ini, Senin (15/06/2015).

Manajer Legal and Relations Asset 4 Pertamina EP, Sigit Dwi Aryono mengatakan, selain sosialisasi juga dilakukan pembinaan terkait operasional pengelolaan sumur tua kepada para penambang.

“Hari ini kami (Pertamina) bersama Paguyuban Penammbang Tradisional mulai melakukan pembinaan dan sosialisasi terkait operasional yang akan dilakukan penambang agar lebih memperhatikan aspek kesehatan, keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan,” ujar Sigit, Senin (15/6/2015).

Ia menegaskan, sosialisasi dan pembinaan pada penambang ini menindaklanjuti perjanjian antara Pertamina EP dengan penambang tradisional yang
ditandatangani di Jakarta, Jumat (12/06/2015)lalu.

Dalam naskah perjanjian itu, lanjut dia, tercantum antara lain soal ketersediaan Pertamina EP menampung minyak hasil penambang tradisional di wilayah sumur tua Wonocolo. Selain itu, juga tercantum larangan tegas bagi penambang untuk tidak mengebor sumur baru atau memperdalam sumur.

Lainnya, dalam perjanjian penambang juga dilarang mengolah minyak mentah serta dilarang keras menjual hasil minyak sumur tua ke luar daerah.

“Lewat perjanjian ini Pertamina EP ingin memberi kepastian pada 2.500 penambang tradisional. Mereka tetap bisa bekerja di wilayah sumur tua Wonocolo karena kami akan menampung produksi mereka. Dengan demikian para penambang tradisional bisa merasa tenang saat bulan puasa nanti,” paparnya.

Menurut Sigit, semangat Pertamina EP ini untuk menjaga situasi kondusif di wilayah Wonocolo, seiring dengan imbauan Kapolres Bojonegoro agar tidak ada
gejolak pasca pemutusan kerjasama antara Pertamina EP dengan 2 KUD di wilayah Wonocolo.

Seperti diberitakan, DPRD dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sepakat menolak keberadaan paguyuban penambang sumur minyak mengelola lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan.

Paguyuban penambang sumur minyak tersebut berkeinginan menggantikan KUD Usaha Jaya Bersama (UJB) dan KUD Sumber Pangan (SP) yang selama ini bertindak sebagai pengelola.

Seperti dikutip Antara, Sabtu (30/05/2015) lalu, Ketua DPRD Bojonegoro Mitro’atin, menjelaskan kesepakatan menolak keberadaan paguyuban penambang disampaikan dalam rapat forum pimpinan daerah (forpimda) beberapa hari lalu.

Menurut dia, penolakan keberadaan paguyuban penambang sumur minyak tua berdasarkan tunjukkan Pertamina EP Asset IV Field Cepu, Jawa Tengah, tanpa landasan hukum.

Meskipun, lanjut dia, Pertamina EP Asset IV Field Cepu beralasan penunjukkan paguyuban penambang yang mengelola lapangan sumur minyak tua hanya dalam masa transisi.

“Keberatan kita juga karena tidak ada kejelasan waktu paguyuban mengelola lapangan sumur minyak tua,” ujarnya.

Ia menambahkan pemkab harus mampu menyelesaikan permasalahan pengelolaan lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, juga Malo, karena masa terakhir kontrak dua KUD, pada 15 Juni.

Sementara itu, Pertamina EP memutus kerjasama pengelolaan sumur tua dengan KUD Sumber Pangan dan Usaha Jaya Bersama sejak 15 Mei dan berlaku efektif 15 Juni.

Pertamina EP akan mengelola sendiri wilayah kerja pertambangan (WKP) di Wonocolo ini dengan sistem swakelola yang tetap melibatkan penambang tradisonal.

Naskah kerja sama antara Pertamina EP dan penambang tradisonal ini ditandatangani Presiden Direktur Pertamina EP Rony Gunawan dengan Wahyu
Handayani (Ketua Paguyuban Wonocolo) dan Sri Bowo (Ketua Paguyuban Wonomulyo).

Pertamina EP menjamin hak penambang tradisional tidak ada yang berkurang dalam pengelolaan sumur tua dengan konsep swakelola. Dalam perjanjian ini, Pertamina EP juga mewajibkan penambang tradisional untuk mengelola lingkungan secara lebih baik agar kerusakan lingkungan di Wonocolo bisa diperbaiki secara bertahap.

DPRD dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sepakat menolak keberadaan paguyuban penambang sumur minyak mengelola lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan.@sarifa