Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE PROOTONOMI

NTP Jatim turun jauh di bawah Jateng dan Jabar 

LENSAINDONESIA.COM: Petani dan nelayan di Jawa Timur terus terpuruk. Terlebih memasuki awal musim kemarau kali ini, Nilai Tukar Petani (NTP) Jatim disebut turun drastis. Padahal NTP di Jatim baru bisa naik dan dinilai dalam posisi bagus hanya pada tahun 2014 lalu.

Anggota Komisi B DPRD Jatim Yusuf Rohana menjelaskan, penurunan NTP sangat berpengaruh terhadap penghasilan yang diterima para petani dan nelayan di Jawa Timur. Bahkan penurunan kali ini jauh dibawah provinsi lainnya yakni Jabar dan Jateng.

“Ini masalahnya ada di sistem irigasi yang selalu tak jalan saat memasuki musim kemarau. Sebaiknya pemerintah lebih fokus dalam penanganan embung-embung di sejumlah wilayah yang utamanya sering dilanda kekeringan,” papar Yusuf Rohana saat ditemui Lensa Indonesia di DPRD Jatim, Senin (22/6/2015).

Menurutnya, jika NTP di Jatim pada tahun lalu bisa mencapai angka 104, kali ini penurunannya dibawah 100. Pihaknya minta Pemprov Jatim segera mencari jalan keluar agar masalah ini bisa teratasi sehingga kesejahteraan petani dan nelayan bisa meningkat.

“Kalau saya perhatikan, dulu jaman Belanda kan punya banyak embung-embung yang dibangun disini (Jatim). Dengan adanya embung maka tak ada namanya yang kekurangan air saat musim kemarau. Tapi sekarang embung-emmbung milik Belanda rata-rata sudah tidak diaktifkan bahkan sudah hilang,” ujar politis asal PKS ini.

Selain itu, Pemprov Jatim juga diminta fokus terhadap pembangunan banyak waduk, khususnya di wilayah yang sering dilanda kekeringan sangat parah. Mulai dari Bojonegoro, Tuban, Malang Selatan, Pacitan hingga Madura. “Embung dan waduk ini dapat menampung air ketika musim hujan, sehingga tidak terjadi banjir. Di Sampang Madura setiap hujan selalu banjir, maka dengan waduk dapat menampung dan dimanfaatkan ketika kemarau,” cetus Yusuf Rohana.

Drastisnya penurunan NTP Jatim tidak hanya dirasakan para petani saja tetapi juga berdampak pada turunnya daya minat beli masyarakat luas terhadap produk pertanian. Daya minat jual terhadap daya beli berbanding jauh, karena naiknya harga jual.

Yusuf Rohana mengingatkan, dengan turunnya NTP Jatim, Pemprov tidak boleh serta merta menjadikan faktor cuaca sebagai alasan utama. Pemprov Jatim melalui Dinas Pengairan harus mencari solusi yang tepat untuk tetap dapat mempunyai persediaan air yang cukup ketika terjadi musim kemarau.@sarifa