LENSAINDONESIA.COM: Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) membentuk tim pemantau loudspeaker masjid. Alasannya agar khotbah di masjid bisa terdengar jamaah yang berada di dalam masjid.

“Selama ini, para Dai berceramah atau khotbah di mesjid mesjid, acap kali tidak terdengar dan dicerna dendan baik oleh jamaah akibat kualitas sound system, akustik dan cara penempatannya yang keliru,” ujar juru bicara JK, Husain Abdullah di Jakarta, Sabtu (25/07/2015).

Diketahui, saat ini untuk keperluan tersebut, DMI telah melatih 700 orang lebih teknisi dan menyiapkan 100 unit mobil teknis. Tiap mobil berisi 3 teknisi: elektrik, sound system dan kebersihan. Mereka akan keliling melatih pengelola pengelola mesjid.

Husain membantah bila tim ini tak memiliki landasan hukum, karena sejak tahun 1978 Dirjen Bimas Islam Depag telah mengeluarkan Instruksi Nomor KEP/D/101/1978 Tanggal 17 Juli 1978 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Mesjid, Langgar dan Mushalla. “Artinya bukan barang baru di Indonesia dan memiliki dasar hukum,” katanya.

Ia juga menjawab kritik dari Ketua PBNU, Slamet Effendy yang menyatakan tim ini takkan bekerja secara efektif. Alasannya, usulan penataan speaker masjid juga datang dari NU sendiri. Bahkan, situs resmi NU, dimana semua juga menyerukan agar loudspeaker mesjid ditata.

Husain juga mengingatkan Gus Dur sejak tahun 1982 sudah menulis tentang pentingnya menata speaker mesjid agar tidak bising dan tumpang tindih. “Aneh kalau Slamet Effendy Jusuf sendiri tidak melihat upaya tersebut justeru tumbuh dan diperjuangkan oleh kaum Nahdiyyin lingkungan di mana Slamet Effendy Jusuf dibesarkan,” ucapnya.

Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf, mengkritik kegiatan pemantauan loudspeaker masjid oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang diketuai JK dengan menyebutnya hal yang berlebihan. Alasannya, dakwah melalui kaset dan speaker sudah jadi tradisi masjid yang ada di Indonesia.

“Saya kira ini berlebih-lebihan. Kalau ada yang tak suka dengan speaker masjid tentu itu bersifat subyektif,” katanya.

Sekretaris Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengaku heran dengan sikap JK belakangan ini. Dia menilai JK terlalu memojokkan umat Islam dalam perkara speaker masjid. “Pernyataan Pak JK akhir-akhir ini agak mengundang banyak tanda tanya. Misalnya, ketika ada masalah Tolikara, kemudian dia menyebut karena speaker,” ujar Mu’ti.

Mu’ti menyatakan, meskipun JK adalah wakil presiden, pemerintah tidak bisa menerapkan sanksi kepada pengurus masjid yang speaker-nya dinilai menciptakan polusi suara. Sebab, menurutnya masih banyak sumber polusi suara yang bisa ditertibkan selain di masjid. Dia mencontohkan polusi suara yang disebabkan acara musik dalam hajatan kampung.

“Banyak faktor yang membuat persoalan dakwah menjadi tidak kondusif, bukan persoalan speaker semata-mata. Kalau speaker itu disoal, nanti lonceng gereja itu disoal tidak?” kata Mu’ti.

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ahmad Satori Ismail meminta JK sebagai wakil presiden fokus menyelesaikan persoalan ekonomi dan pendidikan masyarakat. JK tidak perlu menghabiskan energi hanya untuk mengurusi speaker masjid.

“Untuk apa melihat atau memantau pemutaran kaset-kaset di masjid. Kalau memantau saja tidak apa-apa, tapi sebenarnya kasihan melakukan sesuatu yang produktivitasnya tidak jelas,” kata Satori.

Satori menilai tidak ada yang harus dikhawatirkan dari suara kaset pengajian dan speaker masjid. Sebab, suara pengajian tidak mengajarkan orang untuk berbuat jahat. Satori justru meminta JK melakukan hal yang bisa meningkatkan ekonomi, pendidikan, dan berbagai aspek kebangsaan.

Sebelumnya, Jusuf Kalla menyebut bahwa penyebab penyerangan jamaah Idul Fitri di Kaburaga, Tolikara, Papua disebabkan karena pengeras suara atau speaker. Sebelumnya dia juga mengkritik adanya pemutaran kaset pengajian oleh masjid-masjid sebagai polusi udara.

Sikap JK ini menuai kritikan dari netizen. Salah satunya adalah Didin Hasanudin yang menulis: “Pak Jubir……ada yang lebih penting daripada ngurusin speaker. Banyak masjid yang perlu imam, khatib dan guru ngaji……!!! coba deh turun ke daerah pelosok….!” @sita/rmn/rol/bsd