LENSAINDONESIA.COM: Kepolisian Resort (Polres) Bojonegoro menduga, sebanyak 220 kilogram daging celeng (babi hutan) siap edar yang berhasil diamankan, Minggu (23/08/2015) berasal dari Jawa Tengah.

Dari penangkapan daging celeng itu, petugas mengamankan dua orang yang diduga pelaku penyebaran daging celeng itu. Dua pelaku yakni, Sukamto (37) sopir dan sekaligus pemilik daging celeng, serta Agus Ari Setiawan (35) kenek pikap. Keduanya warga Desa Taji, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro.

Menurut keterangan Sukamto, ia membeli daging tersebut seharga Rp75.000 per kilogram lalu dijual lagi kepada para pedagang di pasar Bojonegoro dan Cepu seharga Rp80.000 per kilogram. Saat menjual daging itu pada para pedagang, ia mengaku kalau daging tersebut merupakan daging sapi.

Setiap dua hari sekali ia mengirim daging celeng tersebut kepada para pedagang daging di Pasar Cepu dan Bojonegoro. Pasokan daging celeng tersebut dari tengkulak daging celeng dari Sragen, Jawa Tengah, yakni Yati (55) asal Desa Mojosongo, Kecamatan/Kabupaten Sragen. Untuk mengelabui petugas, ia kulakan daging celeng itu dari Sragen dan menjualnya di pasaran Bojonegoro dan Cepu pada saat malam hari.

Kapolres Bojonegoro, AKBP Hendri Fiuser, mengatakan, penyitaan daging celeng itu dalam rangka operasi pasar yang dilakukan oleh polres terkait akhir-akhir ini terjadi kelangkaan daging sapi di beberapa daerah. Seperti banyak di daerah lain, saat ini harga daging mulai naik karena banyak daging ditahan atau ditimbun.

Kenaikan harga daging yang cukup drastis itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dengan cara mencampur daging celeng dan daging sapi. Menurut pengakuan pengangkut daging, kata Hendri, daging itu diduga dijual di sejumlah pasar di Bojonegoro.

“Dalam waktu dekat, kami akan menggelar operasi ke pasar-pasar di Bojonegoro, apakah ada daging oplosan (dading sapi dicampur daging celeng) atau tidak,” katanya.@Li-13