Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Konflik rencana modernisasi Pasar Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Wonorejo, Rungkut, Surabaya makin memanas.

Kondisi itu terjadi sesudah beberapa hari lalu, pihak yang mengaku sebagai investor pembangun pasar melakukan penggalian dan penancapan patok, untuk menandai diawalinya pembangunan pasar yang sudah puluhan tahun digunakan warga sekitar sebagai pasar tradisional atau pasar krempyeng.

Aksi itu diawali dengan syukuran dan tumpengan yang digelar di Kantor Kelurahan Wonorejo, Rungkut, Surabaya dan diikuti Lurah Wonorejo juga anggota Polsek Rungkut serta warga yang melintas waktu digelar syukuran.

Pengurus LKMK Wonorejo, Muhammad Iksan mengatakan, warga sebenarnya tidak menolak rencana modernisasi pasar itu, meski di awal sempat menolak rencana pembangunan pasar, karena menilai tidak ada keuntungan yang signifikan untuk warga dan pedagang, kalau pasar dimodernisasi atau dibangun ulang.

“Kita di awal-awal memang sempat menolak rencana pembangunan pasar, tapi sesudah beberapa kali pedagang dan tokoh masyarakat bertemu akhirnya mereka tidak menolak rencana modernisasi itu. Warga hanya menolak, kalau harga stand yang diberikan sesudah dilakukan modernisasi jauh dari kemampuan para pedagang dan warga yang biasa berdagang di dalam pasar,” ujar Iksan, Senin (14/09/2015)

Dikatakan Iksan, kalau harga setiap stand yang ditawarkan investor di atas Rp 70-100 juta, maka akan sangat memberatkan pedagang pasar yang sebagian besar berpenghasilan sangat rendah dalam bertransaksi. “Ini khan pasar krempyeng, bukan pasar yang dikelola pemkot atau swasta, ini murni pasarnya rakyat, tanahnya saja tanah wakaf,” jelas Iksan.

Selain mengeluhkan persoalan harga stand, para pedagang dan warga yang biasa beraktifitas di dalam pasar, juga menyangsikan investor atau pengembang yang akan membangun pasar.

“Sampai sekarang ini tidak ada kejelasan, siapa investor atau pengembang yang akan membangun pasar, kami hanya diberikan janji sama Haji Saifi (Mantan Anggota DPRD Surabaya dari Partai Kebangkitan Bangsa-PKB), kalau pasar pasti akan dibangun dan investor sudah siap,” tutur Iksan yang juga tokoh masyarakat di Wonorejo, Rungkut, Surabaya.

Ditambahkan Iksan, kalau memang ada investor yang jelas, maka harusnya mereka terbuka pada warga, tidak ditutupi seperti sekarang. “Untuk itu, kami akan tetap menolak rencana modernisasi itu, sampai ada kejelasan dan kepastian siapa investornya termasuk harga stand yang baru,” tukasnya.

Para pedagang di Pasar LKMK Wonorejo juga mengaku keberatan dengan uang muka kredit stand yang sudah dipastikan besarnya, 30% dari jumlah nilai kredit yang harus ditanggung setiap pedagang yang akan membeli stand baru. “Ini gak wajar, harusnya kredit itu dihitung dari harga pokok bukan harga kredit, ini sangat tidak masuk akal dan memberatkan kami,” tegas Iksan.

Sementara Haji Saifi dan Mutholib yang menjadi penggerak rencana modernisasi Pasar LKMK Wonorejo sampai sekarang tidak bisa ditemui, bahkan beberapa kali dikontak teleponnya tidak menjawab.

Dari pantauan di rumah Haji Saifi yang ada di kawasan Wonorejo, Rungkut, sekitar 100 meter dari lokasi pasar, hanya terlihat banner-banner yang dipasang di pagar rumah, bergambar rencana modernisasi Pasar LKMK, Wonorejo, Rungkut, Surabaya dan tidak ada aktifitas.

Rencananya, Pasar LKMK Wonorejo, Rungkut, Surabaya akan dibangun 2 lantai dan akan ditempati maksimal 80 pedagang yang sudah lama beraktifitas di dalam pasar tradisional.@ian