LENSAINDONESIA.COM: Dua mahasiswa, Albert Soetijono dan Bram Eka Pratama, terancam 15 tahun penjara lantaran ulahnya menyimpan dan mengedarkan jutaan butir obat-obatan keras jenis Carnophen dan Somadril tanpa ijin.

Dalam sidang di PN Surabaya, Rabu (30/9/2015), kedua mahasiswa ini didakwa Jaksa Murdiyati dari Kejati Jatim dengan pasal 196 UU R.I No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar.

“Kedua terdakwa melakukan perbuatan dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan dan mutu,” ujar Jaksa Murdiyati.

Dalam dakwaan disebutkan keduanya ditangkap petugas BNNP Jatim dalam kos, bekas salon, depan Kantor Kelurahan Petemon Jl aya Petemon Barat 127 pada Mei 2015 lalu. Saat digrebek, kedua terdakwa sedang melakukan pengepresan obat-obatan. Setelah diteliti obat-obatan itu berupa pil Carnophen dan Somadril.

Setelah dilakukan penggeledahan lebih lanjut, ditemukan 67 karton obat-batan dalam kemasan karung warna putih sebagai pembungkusnya, 1 karton dalam kemasan terbuka berisi pil Carnophen dan pil Somadril dengan jumlah seluruhnya 1.330.980 tablet. Dengan perincian 62 karton dan 1 karton dalam kemasan terbuka berisi sediaan farmasi jenis Carnophen 1.350.980 dan 5 karton berisi samodril 80.000 tablet.

“Setelah dicek, sediaan farmasi jenis Carnophen dan Somadryl adalah termasuk obat keras atau obat yang masuk dalam daftar G yang diedarkan hanya melalui resep dokter, sementara kedua terdakwa bukan ahli farmasi,” ujar jaksa.

Namun kedua mahasiswa ini bersikukuh mendapat obat-obatan itu dari Hadi (DPO) dan mereka hanya disuruh untuk menyimpan dan mengepres agar siap diedarkan.@*/LI-15