LENSAINDONESIA.COM: Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan tidak yakin bencana kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap di Sumetera dan Kalimantan dapat diselesaikan dalam dua pekan.

Kendati begitu, ia percaya pemadaman akan membuahkan hasil signifikan. “Kabut asap masih tebal. Saya tidak yakin bisa selesai dua minggu untuk zero asap. Tapi berubah signifikan, iya,” kata Luhut dalam jumpa pers di usai rapat koordinasi di Kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2015).

Ia mengungkapkan, jarak pandang masih sangat pendek, khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. “Di OKI tingkat visibility-nya masih 100 meter. Kami prediksi ini akan berlangsung 10 hari ke depan. OKI jadi medan operasi utama kita,” ujar dia.

Luhut mengakui, pemadaman penyelesaian bencana asap di lahan gambut tidak mudah. Hal itu yang membuat kebakaran hutan yang terjadi tahun ini sulit diatasi. Berdasarakan laporan, lokasi kebakaran hutan dan lahan maih terjadi di 456 lokasi.

Untuk menanggulangi asap, pihaknya bekerja sama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Luar Negeri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kapolri dan Panglima TNI. “Kita selesaikan bersama,” ujarnya.

Luhut mengatakan, pihaknya saat ini menunggu bantuan datang dari Australia, Tiongkok, Thailand, Jepang dan Rusia. Bantuan disesuaikan dengan kebutuhan pemadaman. Pihaknya menggunakan kombinasi bahan kimia dan penggunaan drone.

“Kami sudah berkoordinasi dengan baik. Kita paham betul apa yang harus dilakukan. Tidak benar ada tumpang-tindih. Di setiap tempat, sudah ada komandan satgas. Kami supervisi BNPB di lapangan. Ini sebagai pembelajaran bahwa lahan gambut itu sulit diatasi,” jelasnya.@LI-13