LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro akan membahas penanganan lapangan penambangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, dengan SKK Migas dan Pertamina EP Asset 4 Field, Cepu, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Bojonegoro Agus Supriyanto mengatakan, koordinasi ini dilakukan agar tidak terjadi gejolak sosial di tengah masyarakat.

“Koordinasi akan kami lakukan untuk membahas penanganan lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, agar tidak menimbulkan gejolak sosial,” katanya seperti dikutip Antara, di Bojonegoro, Kamis (17/12/2015).

Agus menyampaikan hal itu, menanggapi penertiban yang dilakukan Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Jawa Tengah, kepada “perengkek” minyak.

“Kami masih menyusun langkah-langkah yang harus kami lakukan dalam menangani pengelolaan lapangan sumur minyak tua,” katanya, menegaskan.

Asisten II Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Bojonegoro Setyo Yuliono, menjelaskan akan segera mengundang berbagai pihak terkait untuk membahas pemecahaan pengelolaan lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan.

Pihak yang diundang, katanya, polres, Kodim 0813, perwakilan penambang sumur minyak, dan Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, termasuk SKK Migas dan Dirjen Migas.

“Pembahasan untuk mencari pemecahan penanganan pengelolaan lapangan sumur minyak tua,” jelas dia.

Humas Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Jawa Tengah, Aulia Arbiani, menjelaskan penertiban “perengkek” minyak atau pengangkut bahan bakar minyak (BBM) sulingan bersepeda motor akan berjalan selama sepekan.

Penertiban, lanjut dia, dilakukan sejak 15 Desember lalu, dilakukan secara persuasif dengan menginggatkan kepada “perengkek” bahwa kegiatannya “ilegal”.

“Setelah ini kami akan melakukan evaluasi hasil penertiban kepada “perengkek”,” katanya, menegaskan.

Humas SKK Migas Elan Biantoro, menegaskan penyulingan minyak secara tradisional yang dilakukan di lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, “ilegal”.

“Produksi minyak mentah lapangan sumur minyak tua seharusnya disetor ke Pertamina. Kalau diolah sendiri jelas “ilegal”,” ucapnya, menegaskan.

Berdasarkan data Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, “perengkek” yang mengangkut BBM sulingan secara tradisional berupa solar, minyak tanah, jumlahnya 356 “perengkek”, di antaranya, Warga Hargomulyo, Kecamatan Kedewan.

Sesuai data, jumlah BBM sulingan yang dibawa keluar melalui jalan Desa Hargomulyo dan Wonocolo, diperkirakan mencapai 447 barel per hari.

Di lapangan sumur minyak tua di sejumlah desa di Kecamatan Kedewan, dengan jumlah 772 titik sumur minyak lama dan baru, tercatat ada 504 dapur lokasi penyulingan minyak mentah tradisional.@LI-13