Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Peristiwa meninggalnya 4 siswi SDN 1 Sukorejo, Kecamatan Perak akibat tenggelam di bekas tambang galian C (kuari) memantik amarah para anggota DPRD Kabupaten Jombang.

Segenap pimpinan serta Bupati dan Wakil Bupati Jombang pun akhirnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi, Kamis (17/12) kemarin untuk mengetahui kejadian yang merenggut nyawa 4 siswi SD tersebut.

Wakil Ketua DPRD Jombang, Subaedy Muktar menegaskan, pihaknya akan membentuk Pansus untuk menjelesaikan persoalan tambang yang kian merusak lingkungan tersebut.

“Pansus akan segera kita bentuk meski Perda (Peraturan Daerah) tentang pertambangan belum jelas. Mekanisme pansus kan minimal dua Fraksi di DPRD,” katanya kepada wartawan, Jumat (18/12/2015).

Menurut Subaedy, target Pansus akan difokuskan pada reklamasi pasca lokasi penambang wajib dilakukan oleh penambang. “Reklamasi kuari sangat penting. Disamping alasan lingkungan juga menghindari bahaya agar kejadian di Kecamatan Perak tidak terulang,” tegasnya.

Sedangkan terhadap anggapan kalau reklamasi tambang merupakan kewajiban pemerintah, dibantah oleh Subaidi. “Lho yang melakukan pekerjaan Galian C penambang atau pemilik, kok pemerintah yang diminta reklamasi. Justru itu kewajiban pengusaha meskipun usaha mereka legal. Kalau tidak dilakukan akan terjerat secara hukum,” tegasnya.

Disinggung terkait izin perusahaan pelakukan aktifitas penambangan, Subaedy membeberkan jika itu sudah wilayah Gubernur. “Dengan diundangkannya UU nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, bahwa pemberian izin usaha tambang menjadi kewenangan Propinsi. Sedangkan Pergub 16 tahun 2015 terkait mekanisme izin tambang, masih dibahas oleh Pansus Tambang DPRD Propinsi Jawa Timur,” jelas politisi dari PKB ini.

Diketahui, saat ini di Kabupaten Jombang banyak terdapat aktifitas Galian C yang dikelola dengan mesin dan manual secara ilegal. Lebih parahnya lagi setelah proses penambangan mereka tidak mereklamasi setelah penambangan berhenti, para penggali tambang tersebut meninggalkan kuari tanpa ada reklamasi.

Sementara itu, pihak kepolisian terus melakukan penyelidikan atas peristiwa meninggalnya empat siswa SDN Sukorejo di bekas tambang galian C.

Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Wahyu Hidayat mengatakan jika saat ini sudah dibentuk dua tim terkait kasus meninggalnya empat siswa SDN Sukorejo tersebut.

“Satu tim untuk menyelidiki kasus meninggalnya Empat siswa SDN Sukorejo. Kita juga sudah memanggil guru pendamping, apakah para guru tersebut memenuhi unsur kelalaian dalam menjalankan tugasnya. Dan yang satu tim lagi menelusuri asal usul galian tersebut. Karena ditemui dilapangan informasi tentang pemilik telah berbeda-beda,” jelasnya.

Maka dari itu, kata Wahyu, pihaknya juga sudah berkordinasi dan memanggil pihak perangkat Desa, juga Tokoh Masyarakat, mantan Kepala Desa yang telah mengetahui asal muasal adanya aktifitas tambang di kawasan itu.@obi