Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Global

Militer Suriah dituding sengaja biarkan warganya mati kelaparan 

LENSAINDONESIA.COM: Sedikitnya 23 orang tewas kelaparan di kota Madaya, Suriah, yang terkepung di tengah konflik antara militer Suriah dengan pemberontak. Diantara korban tewas kelaparan ada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun.

Dilaporkan PBB, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/1/2016), sedikitnya ada 40 ribu orang di Madaya, separuh diantaranya anak-anak membutuhkan bantuan segera untuk menunjang hidup mereka. Akses ke kota itu saat ini dibatasi pasukan militer Suriah.

Ketika pada akhirnya, Kamis (7/1/2016), militer Suriah memberi ijin pada PBB untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke kota Madaya, laporan soal kematian akibat kelaparan akhirnya bermunculan.

Sebagian besar penduduk kota Madaya merupakan pengungsi dari kota tetangga, Zabadani yang dikuasai pemberontak antipemerintah. Doctors Without Borders atau MSF melaporkan, sedikitnya 23 orang di kota Madaya tewas akibat kelaparan. Jumlah itu termasuk enam anak-anak yang berusia kurang dari satu tahun dan lima orang manula dia atas 60 tahun.

Sedangkan menurut organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, disebutkan ada 13 warga setempat yang berusaha kabur ke wilayah lain untuk mencari makanan, namun tewas akibat ranjau yang dipasang militer Suriah dan ditembak mati penembak jitu. “Ini jelas merupakan contoh konsekuensi pengepungan sebagai strategi militer,” sebut Direktur Operasional MSF, Brice de le Vingne.

Menurut Vingne, petugas medis setempat terpaksa memberi makan anak-anak dengan sirup medis sebagai satu-satunya sumber gula dan energi. “Kota Madaya bagaikan penjara terbuka bagi warganya. Tidak ada jalan keluar ataupun masuk, orang-orang dibiarkan mati,” ucapnya. @*/andiono