LENSAINDONESIA.COM: Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti gerah dengan sikap Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi yang ngotot memberlakukan sembilan syarat dalam rencana mencabut SK Pembekuan induk organisasi sepakbola nasional.

Padahal, Komisi X menilai syarat yang diajukan Menpora tersebut tak masuk akal. Sembilan yarat tersebut salah satunya ialah PSSI harus taat pada sistem hukum nasional, berkomitmen secara konsisten terhadap perbaikan tata kelola sepakbola, dan menjamin adanya keterbukaan informasi publik yang akuntabel.

Menpora juga menuntut PSSI agar menggelar Kongres Luar Biasa sebelum akhir April 2016 dan menjamin tim nasional Indonesia mendapatkan gelar di Piala AFF 2016 yang digelar November nanti.Menpora menuntut PSSI agar menggelar Kongres Luar Biasa sebelum akhir April 2016 dan menjamin tim nasional Indonesia mendapatkan gelar di Piala AFF 2016 yang digelar November nanti.

La Nyalla pun tak habis pikir ketika Menpora malah meminta PSSI menanggapi sembilan syarat pencabutan pembekuan PSSI dengan kepala dingin. Imam Nahrawi juga mengatakan, bahwa syarat yang diajukan dia semestinya ditanggapi dengan dingin. Tidak dengan emosi, bahkan sampai memintanya untuk mundur.

“Shalat saja ada syaratnya, wudhu, harus bersuci, bersih, itu shalat loh. Masuk sekolah juga ada syaratnya ada bayar uang pangkal dan sebagainya, masa yang ini (Surat Pembekuan PSSI) mau tanpa syarat,” ujarnya sholat Jum’at di Kantor Kemenpora, Jumat (04/03/2016). “

Karenanya ini harus dilihat secara dingin enggak boleh emosi. Apalagi kemudian dikait-kaitkan dengan faktor like and dislike. Sampai kemudian karena syaratnya enggak bisa dipenuhi, lalu mendesak Menpora untuk mundur, saya kira sudah dewasa kita juga harus berfikir dewasa,” tambah Imam.

Menanggapi hal itu, La Nyalla pun menyebut bahwa pernyataan Menpora semakin hari semakin tidak nyambung dan tidak kontekstual. “Perbandingan dengan syarat sholat dan sekolah sama sekali tidak nyambung dan tidak konteks dalam persoalan sepakbola nasional,” katanya.

“Kepengurusan saya hasil KLB yang sah, dibekukan sebelum sempat bekerja. Semua program yang disusun kepengurusan ini belum bisa dijalankan, bahkan terpaksa dihentikan karena pembekuan dari menpora,” tambahnya.

La Nyalla juga mengungkapkan, pembekuan yang dilakukan Menpora juga tanpa dasar yang terkait dengan alasan yang dituduhkan ke pssi selama ini. “Tak satupun tuduhan itu yang saya lakukan, dan tak satupun tuduhan-tuduhan itu yang dibuktikan oleh Menpora,” tegasnya.

“Sekarang, setelah merasakan dampak suspension FIFA gara-gara intervensi Menpora, mau mencabut pembekuan yang menpora buat sendiri, malah memberi syarat-syarat yang tidak masuk akal dan ironis,”

“Bagaimana mungkin Indonesia diminta lolos kualifikasi piala dunia 2018, sementara Indonesia tidak ikut babak Pra kualifikasi kemarin karena suspension FIFA gara2 pembekuan menpora? Sudahlah, masyarakat Indonesia bukan masyarakat yang tidak berfikir. Masyarakat paham apa yang terjadi dan bagaimana kualitas para menteri,” tutup La Nyalla.@ar