Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Timor Leste: Penghargaan untuk Wiji Thukul bukan atas nama pemerintah
Wiji Thukul. Foto: istimewa
AKTIVIS

Timor Leste: Penghargaan untuk Wiji Thukul bukan atas nama pemerintah 

LENSAINDONESIA.COM: Menteri Komunikasi Timor Leste, Nelyo Isaac, mengklarifikasi mengenai pemberian penghargaan mantan Presiden Xanana Gusmao kedapa aktivis Indonesia, Wiji Thukul.

Isaac mengatakan, penghargaan yang diberikan kepada Wiji bukan atas nama pemerintah. Melainkan dari salah satu organisasi perlawanan Timor Leste yang berada di Pulau Jawa ketika itu, Brigade Negara.

“Wiji Thukul merupakan salah satu warga Indonesia dan salah satu aktivis yang saat itu ikut memperjuangkan nasib rakyat Timor Leste untuk merdeka. Atas jasanya itulah, Brigade Negara memberikan penghargaan tersebut,” tulis Isaac melalui pesan pendek kepad Rappler, Jumat (18/03/2016).

Diungkapkan Isaac, penghargaan tersebut diserahkan Xanana Gusmao kepada putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani di Ibu Kota Dili pada Rabu 16 Meret kemarin.

Selain bagi Wiji Thukul, penghargaan serupa, Isaac melanjutkan juga diberikan kepada beberapa mantan aktivis Indonesia seperti Budiman Sujatmiko, Dita Indah Sari, dan Daniel Kusuma.

Acara tersebut juga diliput secara langsung oleh televisi lokal setempat, Televisi Timor Leste.

Sebelumnya beredar pesan di media sosial yang menyatakan bahwa Fitri tampil di stasiun TV Timor Leste menerima penghargaan mewakili ayahnya, penyair dan aktivis buruh yang dinyatakan hilang sejak 1998. Dalam pesan di media sosial yang ditulis oleh Ndoro Kakung itu, disebut Xanana berbicara dan menyebut Wiji adalah orang yang memasok dan merakit bom yang dipakai tentara Timor Leste untuk melawan ABRI.

“Sayang, Thukul terbunuh di perbatasan oleh anggota ABRI. Dibom,” tulis Ndoro Kakung pada Kamis malam, 17 Maret.

Benarkah apa yang diunggah pria dengan identitas Ndro Kakung itu? Adik Wiji, Wahyu Susilo yang dihubungi Rappler melalui pesan pendek, membantah isi tulisan di media sosial tersebut.

Baca Juga:  PDIP belum turunkan rekom, penetapan pimpinan DPRD Jatim molor

“Sertifikat penghargaan kepada teman-teman Partai Rakyat Demokratik dan 400 anggota brigada negra dalam seminar mengenai tuntutan rakyat Timor Leste tentang perbatasan laut dengan Australia. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan bom,” ujar Wahyu melalui pesan pendek.

Lalu, bagaimana tanggapan Ndoro Kakung? Pria yang bekerja sebagai jurnalis itu justru terkejut apa yang ditulis di media sosialnya bisa beredar luas.

“Saya tidak ingin mengomentari apa pun. Tidak juga ingin merevisi atau menambahkan status Path saya. Saya tidak akan mengatakan saya memperoleh informasi untuk ditulis menjadi status dari mana,” kata pria yang memiliki nama asli Wicaksono itu ketika dihubungi Rappler melalui telepon pada Jumat, 18 Maret.

Keberadaan Wiji hingga saat ini masih menjadi misteri. Ia terakhir terlihat di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur.

Menurut laporan tim ad hoc Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM Berat Penghilangan Orang Secara Paksa (PPOSP) periode 1997-1998, Tim Mawar adalah yang paling bertanggungjawab atas peristiwa penculikan Wiji beserta puluhan aktivis lainnya.

Tim Mawar merupakan sebuah tim yang dibentuk di bawah Grup IV Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berdasar perintah langsung dan tertulis dari Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto.@LI-13