LENSAINDONESIA.COM: Partai Gerindra Jawa Timur menuntut pimpinan DPRD Kota Surabaya segera minta maaf pengusiran terhadap rombongan Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang menghadiri rapat paripurna pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Minuman Beralkohol di Gedung DPRD Kota Surabaya.

Sekretaris Partai Gerindra DPRD Jatim, Anwar Sadad menyesalkan kejadian itu.

Ia menilai sikap pengusiran yang dilakukan kepada lembaga Nahdlatul Ulama itu mengindikasikan bahwa DPRD Kota Surabaya kurang peduli terhadap persoalan peredaran minuman beralkohol (mihol).

Pihaknya menganggap perlakuan tersebut melecehkan dan tidak sopan. Karena itu, pimpinan DPRD Kota Surabaya diminta segera minta maaf. “Saya minta saudara Darmawan atas nama pribadi maupun Wakil Ketua DPRD Surabaya untuk meminta maaf kepada Ketua PCNU Surabaya,” tegas mantan politisi PKB dan PKNU ini pada LICOM, Selasa (19/04/2016).

Seharusnya, lanjut dia, pimpinan dan anggota dewan berterima kasih kepada lembaga seperti PCNU turut memberikan kontribusi pemikiran dan gagasan. Sebab persoalan Mihol memiliki pengaruh yang kompleks terhadap seluruh sisi kehidupan masyarakat Kota Surabaya, sehingga harus melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam pembahasannya.

“Saya minta kepada seluruh anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Surabaya untuk all out berada di belakang PCNU Surabaya dan ormas sosial keagamaan lainnya. Fraksi Partai Gerindra harus menjadi benteng pertahanan upaya pengerusakan nilai-nilai agama, budaya, adat-istiadat di tengah-tengah masyarakat,” cetus dia.

Diketahui, rombongan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya diusir oleh petugas Pamdal DPRD dari Ruang Paripurna DPRD Kota Surabaya saat pembahasan Raperda Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol (mihol) di Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (19/04/2016) kemarin.

Insiden berawal ketika Ketua PCNU Surabaya Ahmad Muhibbin Zuhri dan rombongan memasuki ruang paripurna untuk mengikuti pembahasan Raperda Mihol. Namun, sesampainya di dalam ruangan, pihak DPRD tidak menyediakan tempat duduk bagi para pengurus PCNU ini. Sehingga terkesan, kehadiran mereka tidak diharapkan.

Mengetahui kedatangan PCNU, Pamdal dewan tidak segera menyediakan tempat duduk, malah mereka diarahkan untuk pindah ke ke balkon di lantai 2 ruang sidang paripurna. Selang beberapa menit, rombongan PCNU didatangi petugas Pamdal yang meminta untuk pergi meninggalkan gedung dewan dengan alasan yang tidak jelas. Kabarnya, pengusiran ini dilakukan Pamdal atas permintaan Ketua DPRD Kota Surabaya, Armuji.@sarifa