LENSAINDONESIA.COM: Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil tampaknya mulai mempertimbangkan memilih partai politik. Meskipun enggan menyebut nama parpol, namun ia mengaku tengah mempertimbangkan parpol yang akan digunakan sebagai kendaraan politiknya.

“Saya enggak ada tekanan yang mengikat karena enggak ikut partai. Tapi lagi milih-milih, karena kemungkinan bisa saja,” ujarnya ditemui di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Selasa (10/5/2016).

Ditanya parpol mana yang menjadi pertimbangannya, pria yang akrab disapa Emil, belum mau terbuka. Dia menunjuk poster Sukarno yang ada di ruang kerjanya. Namun ketika disebut parpol itu adalah PDIP, ia menggeleng. “Nanti saja karena belum tentu juga akan berpartai,” tegasnya.

Disinggung apakah pertimbangan untuk memilih parpol terkait Pilgub Jabar 2018 nanti, Emil tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. “Gimana nanti,” tegasnya.

Menurut Emil, ternyata terjun ke kancah politik, tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia mengaku sering mengalami dilema dalam mengambil keputusan. Namun pilihan itu kerap dituntaskan dengan cara yang disebutnya politik akal sehat.

“Saya sebagai wali kota sering mengalami dilema dalam pengambilan keputusan. Tapi akhirnya mendapatkan hikmah bahwa dalam pengambilan keputusan, yang paling benar adalah politik logika akal sehat,” ujarnya.

Menurutnya hampir setiap keputusan yang diambilnya adalah hasil pikiran akal sehatnya. “Tidak selalu mengikuti hawa nafsu atau rekomendasi. Makanya keputusan saya kebanyakan melawan arus,” tuturnya.

Emil mencontohkan saat dia harus mengambil keputusan antara maju ikut pencalonan Pilgub DKI atau tetap melanjutkan kepemimpinannya di Kota Bandung, ia berpikir semaksimal mungkin dengan akal sehatnya.

“Ke Jakarta kalau enggak pakai politik akal sehat, saya ambil. Tapi saya pikir-pikir dengan akal sehat, Bandung na oge can beres (Bandungnya juga belum beres) buat apa saya ke Jakarta,” ujarnya.

Dengan berkiblat pada politik akal sehat, Emil mengakui keputusannya kerap melawan arus dan bertentangan dengan apa yang diaspirasikan. Emil berkesimpulan bahwa tidak ada politik yang bisa menyenangkan semua orang.

“Kira-kira begitu. Kesimpulannya, tidak ada politik yang menyenangkan semua orang. Keputusan A bisa mengecewakan bagi yang kecewa, tapi diapresiasi bagi yang ikut dalam hasil keputusan,” katanya.@arie