LENSAINDONESIA.COM: Muhammad Faisal SH, Kuasa Hukum Saluki (28) warga Jl Bulak Setro II dan Dwi Saputra Wibawa (27) warga Bulak Cumpat II, Rabu (11/5/2016), membacakan pembelaan terhadap kliennya terkait penangkapan kasus judi dadu yang patut diduga penuh dengan rekayasa berlatar belakang dendam pribadi.

Mantan wartawan surat kabar harian nasional ini menganggap penangkapan terhadap kliennya yang dilakukan oknum anggota Reskrim Polsek Kenjeran Surabaya patut dipertanyakan. “Fakta persidangan, kedua terdakwa mencabut semua keterangan dalam BAP. Selain tidak didampingi kuasa hukum, juga dalam tekanan saat dalam penyidikan,” terang Faisal dalam pembelaannya dengan menyebut kliennya mengalami kekerasan fisik saat diduga dipaksa mengaku sebagai bandar judi dadu.

“Enam polisi dari Polsek Kenjeran dalam keterangan di bawah sumpah sesuai fakta persidangan, ternyata bersaksi secara tidak benar dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” tambah lulusan fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Muhammad Faisal juga sangat menyesalkan sikap petugas Polsek Kenjeran yang sengaja melepas dan membiarkan bandar judi, Mukhlas (oknum PNS) tetap bebas meski berada di lokasi saat penggerebekan judi dadu di lapangan futsal Jl Bulak Cumpat berlangsung.

“Saat petugas memberikan tembakan peringatan, puluhan warga disana tidak ada yang melarikan diri karena di lokasi lapangan itu juga jadi tempat cangkruk, ngopi dan main futsal. Polisi menyuruh warga keluar satu persatu dan saat itu dan klien kami ditangkap sementara bandarnya dibiarkan,” tambahnya.

“Sementara keterangan warga yang bersaksi dalam persidangan, semuanya menyatakan bahwa klien kami atas nama Saluki tidak sedang berjudi saat ditangkap dan ketika itu sedang duduk-duduk dengan sejumlah warga lainnya dengan jarak sekitar 7 meter dari lokasi judi dadu,” pungkasnya.

Seperti diberitakan Lensa Indonesia sebelumnya, Saluki (28) warga Jl Bulak Cumpat yang ditangkap petugas Reskrim Polsek Kenjeran dan dipaksa mengaku sebagai pelaku judi dadu, akhirnya nekat buka suara dalam sidang di PN Surabaya, Rabu (23/3/2016) lalu.

Melalui kuasa hukum yang membelanya secara gratisan, Muhammad Faisal SH, buruh pabrik yang hanya lulusan SMP itu mencabut semua keterangannnya dalam BAP polisi karena mengaku disiksa saat diperiksa di Polsek Kenjeran. “Klien kami menyatakan mencabut semua keterangannya dan dia mengaku saat diperiksa disertai dengan penganiayaan dan dipaksa mengaku sebagai pelaku judi dadu,” terang Muhammad Faisal yang mengaku terpanggil untuk membela warga yang lemah secara ekonomi namun butuh bantuan hukum.

Dalam sidang di PN Surabaya itu dua saksi dari petugas Reskrim Polsek Kenjeran, yakni Aipda Abdul Muis dan Brigadir Salim menyebut Saluki adalah bandar judi dadu. “Menurut Dwi Saputra yang juga tersangka judi dadu, Saluki ini adalah bandarnya,” terangnya.

Namun keterangan itu dimentahkan oleh Dwi Saputra, warga Jl Bulak Cumpat yang juga ditangkap bersama Saluki. “Saya tidak pernah ngomong kayak gitu,” tegasnya.

Begitu juga dengan Saluki yang ditanya hakim tentang siapa sebenarnya bandar dadu di Bulak Cumpat yang tak ikut ditangkap dan sengaja dilepas petugas Reskrim Polsek Kenjeran. “Namanya Mukhlas. Dialah bandar dadu yang sebenarnya. Waktu penggerebekan, Mukhlas ada di lokasi tapi saya juga heran kenapa kok dibiarkan pergi,” terangnya.

Berdasar penelusuran Lensa Indonesia, penggerebekan judi dadu di kawasan Bulak Cumpat dilakukan petugas Reskrim Polsek Kenjeran di sebuah lapangan futsal, 13 Desember 2015. Di tempat itu saat penggerebekan, sebenarnya ada sejumlah warga yang duduk secara berkelompok-kelompok di lapangan futsal yang diamankan. Namun mereka dilepas karena tak terbukti ikut judi.

Nah, Saluki ikut duduk berkelompok di bagian warga yang tak ikut judi dadu dan letak duduknya memang terpisah beberapa meter dari arena judi dadu. Tapi entah mengapa dari kelompok duduknya, cuma Saluki yang diciduk petugas Reskrim Polsek Kenjeran. Merasa tak ikut judi dadu, anak yatim ini bersikukuh membantah dirinya tak terlibat apapun. “Tapi ada oknum polisi yang memukulinya sambil mengancam. Saya tahu kok nama polisinya,” cetus salah satu warga.

Info yang beredar di masyarakat Bulak Cumpat, penangkapan terhadap Saluki ini merupakan pesanan oknum Reskrim Polsek Kenjeran. Pada tahun 1998 lalu, oknum Polsek Kenjeran ini pernah masuk tahanan gara-gara keterangan yang diberikan Saluki terhadap petugas Propam Polres Surabaya Timur kala itu. “Jadi ini skenario bandar dadu dengan oknum Mas. Istilahnya tukar kepala,” terang pria yang meminta namanya dirahasiakan ini. @rofik