LENSAINDONESIA.COM: Musyawarah Luar Biasa Partai Golkar segera memasuki puncak acara dengan agenda pemilihan ketua umum partai yang baru.

Dari delapan orang Caketum, pilihan politik dari peserta sudah mulai mengerucut kepada beberapa calon saja. Salah satunya ialah calon nomor urut 2 Setya Novanto.

Politisi muda Partai Golkar yang pada akhir tahun 90-an menjadi Ketua Umum Organisasi Mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung, Taufik Hidayat menilai Setya Novanto merupakan sosok yang paling tepat untuk posisi tersebut.

Menurutnya, ada tiga alasan mengapa Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI tersebut adalah yang paling pas untuk memimpin Golkar.

“Pertama, melihat tantangan era baru demokrasi Indonesia bagi partai politik, seperti menghadapi Pileg dan Pilpres serentak. Maka lebih dibutuhkan figur ketua umum yang berpengalaman dan profesional dalam mengelola manajemen partai, ketimbang melihat popularitasnya di depan publik,” ujar Taufik di Nusa Dua, Bali, Senin (16/05/2016).

Dalam pandangan Taufik, dengan pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang serentak maka kedudukan ketua umum partai sebagai vote getter akan berkurang signifikan, apa yg disebut dengan “coattail effect” dalam politik modern akan terjadi pada partai Golkar ketika Setya Novanto mampu menggandeng calon presiden yang juga akan mendongkrak suara partai.

Terlebih lagi bila pemilu 2019 mendatang menggunakan sistem proporsional tertutup, maka kunci kemenangan partai akan ditentukan oleh kinerja mesin partai dan proses candidating (seleksi caleg) yang professional dan berkualitas ketimbang mengandalkan popularitas ketum partai. Selain itu, lanjut dia, hal yang sama berlaku dalam rekruitmen calon presiden dan wakil presiden.

“Selama ini Partai Golkar adalah partai modern yang selalu mengandalkan gagasan dan program dengan doktrin karya-kekaryaannya. Apalagi Setya Novanto berjanji akan lebih konsentrasi mengurus dan mengembalikan kebesaran dan kejayaan partai ketimbang sibuk dengan urusan lain, apalagi pencalonan dirinya sebagai presiden ataupun wakil presiden,” terang Taufik.

Alasan kedua, lanjut Taufik, bahwa Setya Novanto merupakan simbol regenerasi kepemimpinan politik di Indonesia. Setelah tiga periode Pascareformasi kepemimpinan partai Golkar, maka sudah tiba waktunya bagi generasi baru kepemimpinan akan lahir.

Menurut Taufik, dari track record politiknya, Setya Novanto adalah produk generasi pascaorde baru yang sudah mulai memasuki usia maturitas politik yang sudah mumpuni untuk memimpin.

Alasan ketiga menurut Taufik, Setya Novanto menjanjikan manajemen partai yang modern. “Yaitu pematangan konsolidasi organisasi dan pemenangan di dalam pemilu,” ujar Taufik yg pernah menjadi Ketua Pansus UU Pemilu DPR RI Periode 2009 – 2014.

Partai Golkar sebagai partai modern selalu menjadi referensi bagi partai lainnya dalam hal pengelolaan partai. Oleh karena itu dalam penilaian Taufik, program-program yang ditawarkan oleh Setya Novanto merupakan sinergisitas antara kebutuhan dan harapan partai di masa mendatang.

Pun demikian dengan latar belakang Setya Novanto sebagai seorang pengusaha yang dipermasalahkan kelompok tertentu. Bagi Taufik, itu tidak masalah, tidak akan menjerumuskan partai beringin ke dalam pusaran oligarki pemilik modal dan menjadikannya sebagai alat kepentingan.

“Bukan zamannya lagi mendikotomikan antara aktivis dan pengusaha. Semua berjuang untuk kemajuan partai. Tidak ada bedanya. Setiap keputusan kan harus diambil melalui mekanisme partai yang sudah jelas diatur dalam AD/ART partai. Tidak bisa sewenang-wenang sesuai selera Ketum, yang penting adalah etika berdemokrasi yg harus menjadi landasan nilai dalam mengambil keputusan di partai,” terang Taufik yang pernah menjadi Ketua Umum PB HMI 1995-1997.@yuanto