Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Tak rela pemerintah pro petani, pedagang gula mainkan APTR boneka
Wakil Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jatim Suprayitno (kiri) menjawab pertanyaan media usai menggelar pertemuan dengan petani tebu dari 11 pabrik gula (PG) di Jombang, Jawa Timur, Senin (16/05/2016). Foto: Istimewa
HEADLINE EKBIS

Tak rela pemerintah pro petani, pedagang gula mainkan APTR boneka 

LENSAINDONESIA.COM: Manuver para pedagang gula untuk memainkan isu melalui kelompok yang mengatasnamakan petani tebu makin nyata di Jawa Timur.

Sesudah di awal pekan, oknum petani di Jombang digerakkan untuk suarakan ancaman boikot pabrik gula atau PG milik BUMN, Jumat (20/05/2016) di Surabaya para pedagang menunggangi kelompok mengatasnamakan petani untuk kepentingan pemasaran gula di 2016.

“Dari berbagai temuan kami di lapangan, manuver ini jelas terlihat benang merahnya dengan kegelisahan para pedagang yang tidak lagi nyaman bila pemerintah punya kebijakan yang berpihak pada petani,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pusat, Abdul Wachid, Jumat (20/05/2016).

Seperti informasi beredar di kalangan wartawan, hari ini para pedagang gula dari berbagai kota, berkumpul di acara sarasehan digelar Soemitro Samadikun Ketua APTRI versi Yogyakarta, yang dinilai telah ditinggal petani tebu.

Pada sarasehan APTRI versi Soemitro yang digelar di Graha Kebon Agung, Jl. Raya Margorejo indah Kav. A 131-132, Surabaya tersebut, Piko diantara pedagang besar gula malah diminta secara khusus untuk bicara “Strategi Pemasaran Gula 2016.”

“Ini sesuatu yang aneh tapi nyata, organisasi menamakan petani malah seakan disetir oleh pedagang gula, dan apa namanya kalau bukan APTR boneka itu?,” papar Abdul Wachid, ketika dikonfirmasi per telpon soal ini.

Abdul Wachid mengatakan, bahwa sejak Munas Yogyakarta yang lalu, kelompok Soemitro ini sepatutnya tidak lagi mengatasnamakan petani tebu karena telah dimosi tidak percaya dalam Munas APTRI Yogyakarta akhir 2015 lalu.

Menurut Abdul Wachid, sikap organisasi petani idealnya itu steril, jangan bias dengan kepentingan pihak lain, apalagi yang bertentangan. Kalau ada kebijakan seperti adanya kartu tani dan kebijakan pemerintah yang menjamin kepastian rendemen dan pembelian gula petani, maka harus di dukung.

“Lebih 60 persen gula petani itu masih rendemen dibawah 8,5 persen, sehingga kalau ada jaminan dari pemerintah adanya pembelian gula dengan rendemen 8,5 persen oleh PG milik BUMN itu adalah hal yang harus didukung,” tegas Abdul Wachid yang juga wakil ketua Panja Gula DPR RI.

Ancaman Boikot untuk PTPN X Hanya Isapan Jempol

Para petani tebu menilai, manuver pedagang dinilai hanya akan makin membuka kedok mereka yang hanya ingin mengeruk keutungan usaha melalui spekulasi harga gula.

“Kami petani, mengapresiasi tujuan Ibu Meneg BUMN dengan berbagai terobosan kebijakan, termasuk soal rendemen dan jaminan harga ini khan positif buat petani, tapi buat spekulan tentu pukulan,” tambah ketua APTRI PTPN X H Mubin.

Menurut H Mubin, dengan gelisahnya pedagang berspekulasi harga, bukan hanya mereka mengatur startegi pemasaran, tapi juga terlibat di balik munculnya ancaman boikot atas namakan petani tebu ke PTPN X.

“Awal pekan ini, ada pihak mengatasnamakan petani di Jombang menyatakan akan boikot tidak setor tebu ke PTPN X, lalu mau disetor kemana? Apa motifnya? Janganlah publik dianggap tidak tahu kalau agen dan boneka pedagang sedang bermain dengan organisasi boneka,” tanya Mubin.

Menurut Mubin, ancaman itu sekadar isapan jempol belaka. Karena sebagian petani di Jombang dan umumnya di Jawa Timur bagian Barat, masih memegang loyalitas dan rasionalisasnya, bahwa tebu mereka masih akan digiling ke PG milik PTPN X, yang merupakan diantara BUMN gula terbesar di Indonesia.

“Kalau tebu tidak digiling, apa gak malah rugi petani? Lalu kalau petani rugi siapa yang mau nanggung? Kami petani bukan orang bodoh, ini pasti ada oknum bermain untuk suarakan kepentingan pedagang dan spekulan,” jelas H.Mubin.

Mubin menambahkan saat ini, jumlah pasokan tebu yang masuk ke pabrik gula serta panjangnya antrian truk pengangkut tebu sepanjang 3 KM baik di PG Gempolkrep, PG Ngadiredjo maupun PG Pesantren Baru.

“Panjang antrian ini, bukti kalau petani tidak menggubris skenario oknum yang mengatasnamakan petani untuk boikot, dan ini adalah fakta sungguh sesungguhnya,” kata Mubin.

Mubin menambahkan petani sudah melakukan tebang dan tetap mengirim tebu sesuai dengan jadwal ke pabrik gula. Dan terkait jaminan pendapatan minimal petani setara rendemen 8,5 persen, petani menyambut dengan gembira. Sebab, petani bisa memperoleh pendapatan lebih bila dibandingkan dengan sebelumnya.@ar