LENSAINDONESIA.COM: Komisi B DPRD Jawa Timur menolak rencana Menteri BUMN Rini Soemarno yang akan mengimpor sebanyak 381 ribu ton gula mentah (raw sugar).

Anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto mengatakan, rencana impor raw sugar yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini berbarengan dengan musim giling pabrik gula yang menampung tebu dari para petani.

Bahkan, untuk pabrik gula di Kediri, Jawa Timur sudah ada yang menggiling tebu menjadi gula. Di Kediri sudah musim giling. “Kalau memang niatnya untuk mengendalikan harga, kan bisa diambil dulu untuk menggerojok pasar. Sebenarnya kalau mau, kita bisa kok tanpa impor itu,” kata Subianto saat dikonfirmasi LICOM, Jumat (27/05/2016).

Karena itu pihaknya menilai saat ini kebijakan impor belum bisa dijadikan ‘senjata’ untuk mengendalikan harga gula, terlebih memasuki musim giling. “Justru impor (gula) ini bisa dibuat bargaining oleh pelaku. Kalau gula mahal tidak akan laku, terus siapa yang akan beli,” tanya politisi asal Partai Demokrat ini.

Solusi lain, lanjutnya, agar harga gula terkendali yakni dengan mengajak pihak PTPN X dan PTPN XI untuk berunding dan mengkaji harga gula di pasaran. “Semua berupaya agar dapat mengendalikan harga gula. Pemprov Jatim sekarang ini juga menggelar operasi pasar termasuk untuk gula,” paparnya.

Diketahui, kebijakan impor raw sugar tersebut rencananya akan didistribusikan ke PTPN IX sebanyak 41 ribu ton, PTPN X sebanyak 115 ribu ton, PTPN XI sebanyak 100 ribu ton, PTPN XII sebanyak 25 ribu ton, PT PG Rajawali I sebanyak 48 ribu ton dan PT PG Rajawali II sebanyak 52 ribu ton.

Selain impor, Menteri Rini juga membuat jaminan akan menaikkan rendemen tebu petani tebu lokal dari 6 persen menjadi 8,5 persen.

Subianto menambahkan komitmen ini sangat luar biasa. Dengan adanya jaminan kenaikan rendemen tebu ini sangat diharapkan oleh para petani tebu. Namun persoalannya, apakah jaminan itu bisa dipastikan atau tidak.

“Kalau rendemennya 8,5 persen tidak masalah. Kuatirnya tidak terealisasi, dan masih di bawah angka 8,5 persen. Itu malah jadi persoalan baru,” tandasnya.

Selain impor, menteri BUMN membuat jaminan akan menaikan rendemen tebu dari 6 persen menjadi 8,5 persen. Komitmen ini sangat luar biasa, dan para petani sangat menerimanya dengan adanya jaminan kenaikan rendemen tebu. “Kalau rendemennya 8,5 persen tidak masalah. Kuatirnya tidak terealisasi, di bawah 8,5 persen,” paparnya.

Diketahui, Pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN akan mengimpor 381 ribu ton gula mentah (raw sugar) melalui PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X).

Gula mentah itu nantinya akan diolah menjadi gula kristal putih (GKP) di pabrik gula milik badan usaha milik negara (BUMN) perkebunan.

Sebagai tindak lanjut, Menteri BUMN telah meneken surat bernomor S-289/MBU/05/2016 pada 12 Mei 2016 mengenai impor raw sugar tahun 2016. Isinya, ada enam pabrik gula yang mendapat jatah impor raw sugar kali ini.@sarifa