LENSAINDONESIA.COM: Persedian gula di Kabupaten Jember dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat sepanjang tahun ini. Hal ini karena stok gula di gudang Pabrik Gula Semboro tersimpan sebanyak 1.677 ton.

“Kami mendapatkan informasi bahwa stok gula di Pabrik Gula Semboro sebanyak 1.677 ton dan sewaktu-waktu stok gula tersebut bisa digunakan, apabila terjadi hal-hal yang memengaruhi inflasi,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jember, Masykur di Jember seperti dikutip Antara, Senin (30/05/2016).

Menurut dia, harga gula biasanya naik menjelang awal musim giling dan kebetulan pada tahun ini bertepatan dengan momentum jelang Ramadhan, sehingga hal tersebut menimbulkan gejolak di masyarakat karena harganya melambung tinggi.

“Rencananya awal musim giling di PG Semboro dibuka sejak 10 Juni 2016 dan target giling sebanyak 10 juta kuintal tebu, dengan estimasi luasan lahan tebu 12.000 hektare,” katanya.

Informasi yang didapat Dishutbun, lanjut dia, lelang harga gula terakhir pada Maret 2016 sebesar Rp11.500 per kilogram, namun saat ini harga gula di pasaran mencapai Rp16.000 per kilogram.

“Persoalan tata niaga gula hingga ke konsumen melambung tinggi bukan menjadi kewenangan kami karena Dishutbun Jember fokus pada lahan pertanian tebunya. Kami berharap PG Semboro tidak kekurangan bahan baku tebu untuk digiling tahun ini karena saat ini ada Pabrik Gula di Glenmore Banyuwangi,” ujarnya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Jember Ayub Junaidi mendesak Pemkab jember melakukan sejumlah kebijakan dan mengintervensi PG Semboro, agar segera mengeluarkan gula yang disimpan untuk mengendalikan harga gula di pasaran.

“Harga gula di pasaran dinilai sudah tidak wajar yakni mencapai Rp16.000 per kilogram, bahkan kami juga mendapatkan informasi harga sudah menembus Rp17.000 per kilogram. Perlu langkah cepat untuk mengendalikan harga gula pasir yang tidak terkendali,” tuturnya.

Politisi PKB Jember itu menduga ada pihak-pihak “mafia” gula yang bermain dalam lonjakan harga gula tersebut karena kenaikan komoditas tersebut tidak wajar yakni dari Rp11.000 menjadi Rp17.000 per kilogram.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan operasi pasar dengan memberikan subsidi biaya ongkos angkut yang memprioritaskan operasi pasar gula di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur sejak 27 Mei hingga 1 Juli 2016.

“Operasi pasar itu bertujuan untuk mengendalikan harga gula pasir yang melambung tinggi, sehingga diharapkan harga gula di pasaran kembali stabil dan menurun,” kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindag dan ESDM Jember, Agus Nur Abadi.@LI-13