Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Aktivis geram ribuan ha sawit korbankan nasib anak perempuan Dayak
Ilustrasi prempuan Dayak yang rentan jadi korban human trafficking.
CANTIKA

Aktivis geram ribuan ha sawit korbankan nasib anak perempuan Dayak 

 

LENSAINDONESIA.COM:  Aktivis dan pemerhati anak Perempuan Dayak, Sr Theresia Kurniawati RGS mengakui dunia pendidikan di Ketapang cukup memprihatinkan.  Khususnya, yang dialami anak perempuan, termasuk krisis memperoleh air cukup akibat alam hutan berubah menjadi lahan sawit.

Aktivis anak yang tinggal di Dusun Tempayak, Desa Sukakarya, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, ini prihatin mencermati fakta bahwa anak SMP pun belum lancar membaca. Untungnya, dalam Dayak antara anak perempuan dan laki-laki tidak begitu dibedakan.

“Kalau anak laki-laki bisa sekolah, anak perempuan juga bisa sekolah. Bahkan, kadang-kadang anak perempuan ini di dalam kebudayaan Dayak diperlakukan lebih istimewa,” tegasnya dalam keterangan pers kepada LICOM, Kamis (02/06/2016).

“Anak perempuan bisa jadi anak kesayangan. Orang sini jarang punya banyak anak. Paling satu atau dua. Buat mereka anak adalah ‘kekasih saya’ atau yang paling dicintai. Secara budaya pun, kalau anak perempuan dilecehkan maka akan ada denda adat.”

Tentu, aktivis-aktivis pemerhati perempuan yang lain pun menuntut tanggungjawab Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk ‘buka mata’ dan tidak terpedaya kepentingan ekonomi minoritas yang cenderung “melestarikan “ kebodohoan rakyat perempuan pedalaman. Begitu pula Menteri KLH Siti Nurbaya juga diminta ‘buka mata’ untuk tidak tunduk terhadap kepentingan ekonomi minoritas, tapi mengorbanan kelestarian alam yang juga menjadi tumpuhan nasib anak cucu NKRI ke depan

Tapi satu hal yang sekarang ini tak pernah disadari, terangnya, yaitu runtuhnya hak anak perempuan untuk mendapatkan air yang cukup. Ini konkret: perempuan dimana pun butuh air. Sedangkan tanah di Kalimantan (ribuan hektar) masif ditanami sawit yang notabene menyedot banyak air. Orang sudah tidak punya air lagi. Itu yang tidak disadari orang.

Baca Juga:  Bendera Indonesia berkibar di Festival Spanduk Dunia di Lyon Prancis

“Air bagi perempuan bukan sangat penting, tetapi lebih dari itu. Kalau tidak ada air, begitu susahnya kami para perempun. Itu yang orang nggak kepikir. Perempuan hidup nggak mungkin nggak ada air. Laki-laki mungkin bisa bertahan sehari tidak pakai air, kalau perempuan tidak bisa,” terangnya.

Ia menegaskan kerusakan alam Kalimantan pelan-pelan juga “merenggut hak perempuan” untuk tetap sehat dan untuk tetap menjaga kelangsungan hidup.

Karena itulah, ia berupaya mencegah human trafficking di hulunya. Trafficking ada karena kemiskinan. Kemiskinan ada karena pendidikannya kurang diperhatikan.

Ia kini menampung anak-anak perempuan pedalaman yang menempuh pendidikan di Marau. Anak-anak perempuan pedalaman diberi fasilitas agar bisa mendapatkan tempat yang aman dan nyaman untuk mengisi kekosongan yang tidak didapat di sekolah.

“Mentang-mentang kita di pedalaman, tidak ada yang mau memperhatikan,” keluhnya merujuk pada Dinas Pendidikan Ketapang yang menurutnya masih belum pro pendidikan anak-anak pedalaman.

“Kalau ada salah satu dari anak perempuan ini gagal, kita akan kehilangan satu orang pemimpin. Misalkan ada yang hamil muda dan harus melahirkan dalam usia muda lalu kesulitan melahirkan dan meninggal itu artinya kami kehilangan satu orang ibu yang hebat di masa depan,” tandasnya.

Tugasnya kini menampung anak-anak dari pedalaman yang tidak punya akses pendidikan untuk sekolah dan memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk mereka.

Ia berharap ke depan anak-anak perempuan harus memiliki peran penting untuk memutus mata rantai kemiskinan, kejahatan, kekerasan dan diskriminasi antar generasi.

“Bila pemenuhan hak-hak mereka berjalan sesuai harapan, anak perempuan berpotensi menjadi agen penting dalam perubahan dunia,” tutupnya. @licom_09