LENSAINDONESIA.COM: Setelah dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan, Polrestabes Surabaya melimpahkan berkas tahap dua beserta tersangka pengacara Yudi Wibowo Sukinto ke Kejari Surabaya, Kamis (2/6/2016).

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga saat dikonfirmasi melalui Ponselnya membenarkan pelimpahan tahap dua kasus pencemaran nama baik yang dilakukan Yudi Wibowo Sukinto yang tak lain pengacara tersangka `kopi maut` Jessica Wongso. “Memang benar, kami tadi sekitar pukul 12.00 WIB telah melimpahkan berkas tahap dua bersama tersangka ke Kejaksaan Negeri Surabaya. Berkas sudah dinyatakan lengkap (P21) oleh Jaksa pada 26 Mei 2016. Tersangka kami jerit pasal 310-311 tentang pencemaran nama baik,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pengacara yang sedang menangani kasus kopi maut Jessica Wongso ini, gugatan praperadilannya terhadap Kapolrestabes Surabaya ditolak oleh Hakim Pengadilan Negeri Surabaya pada Senin (12/10/2015) lalu. Advokat bergelar Doktor tersebut sebelumnya mengajukan gugatan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencemaran nama baik, fitnah dan pencemaran nama baik.

Kasus ini bermula dari dugaan penganiayaan yang dilakukan Saul Krisdiono terhadap siswa SMP GIKI, Firdaus Amyrulloh. Guru SMP GIKI itu berbalik mengadukan Yudi Wibowo Sukinto, kuasa hukum korban ke Dewan Kehormatan (DK) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Jatim karena merasa dicemarkan nama baiknya.

Haryono, Kepala SMP GIKI yang mendampingi Saul, menjelaskan semua berawal dari surat yang dikirimkan Yudi Wibowo kepada Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya di Jl Jagir Wonokromo, tertanggal 10 Oktober 2013. Di surat tersebut disebutkan, bahwa terdakwa Saul Krisdiono memukul Firdaus seperti menghajar maling. ”Padahal Saul berusaha melerai pertengkaran fisik antara Firdaus dengan salah satu siswa SMP GIKI,” kata Haryanto.

Yudi Wibowo Sukinto juga menyebut Saul Krisdiono sebagai preman yang pernah dihukum selama dua tahun. Haryanto dan Saul menyayangkan pernyataan Yudi karena dia adalah seorang advokat. ”Pernyataannya langsung menuduh tanpa kata-kata ’diduga’. Padahal si Yudi ini adalah seorang advokat,” tandasnya.

Yang bikin Saul Krisdiono merasa dicemarkan, surat tersebut juga ditembuskan ke Walikota Surabaya, DPRD Surabaya, Kapolrestabes Surabaya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan sebuah media televisi. ”Ini apa urusannya dengan media televisi kok surat itu ditembuskan ke sana,” ujar Haryanto geram.

Terkait proses di DK Peradi, Haryanto mengatakan sidang sudah berjalan tiga kali. Kemarin ia hadir sebagai saksi. Selain ke DK Peradi, Yudi Wibowo Sukinto juga sudah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya 28 Mei 2014 lalu dengan tudingan pencemaran nama baik. @rofik