LENSAINDONESIA.COM: Presiden Jokowi menyentil kebiasaan naiknya harga tiap Ramadan dan Idul Fitri. Seharusnya, di dua momen ini banyak diskon diterima oleh masyarakat seperti di luar negeri.

Di negeri orang, kala Natal dan Tahun Baru banyak potongan harga. “Kita ini mau Idul Fitri mestinya banyak diskon gitu lho. Saya ini membayangkan ada itu, gitu lho. Tempat lain bisa, kenapa kita nggak bisa. Kita ini ndak, ini mau Idul Fitri malah cepet-cepet naik,” kata Presiden dengan nada bertanya di Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/6/3026)

Diakui Presiden, memang permintaan atau demand naik menjelang hari raya Idul Fitri. Tetapi kalau suplainya dikendalikan, Presiden meyakini harga-harga tidak akan naik.

Hal-hal itulah, menurut Presiden, yang harus dilakukan perubahan. “Saya yakin itu mampu kita lakukan. Sangat terkonsep, terencana, dan pelaksanaan implementasi di lapangan itu diikuti,” tuturnya.

Presiden mengingatkan, nanti dampak dari kenaikan harga ini yang terkena adalah rakyat kecil, termasuk petani, buruh tani.

Ia meminta seluruh menteri Kabinet Kerja agar berhati-hati terhadap inflasi, terutama inflasi menjelang lebaran.

“Ini menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan tetapi kementerian yang lain juga berperan, seperti Kementerian Pertanian dan Kementerian BUMN, karena juga menyangkut langsung dengan hal-hal yang berkaitan dengan inflasi,” kata Presiden. @licom