LENSAINDONESIA.COM: Asosiasi Pengusaha Aluminium Indonesia (Aspalindo) Jombang mengklarifikasi temuan ribuan sak limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang digunakan sebagai tanggul DAM Yani, Sungai Avur Desa Budugsidorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

Wakil Ketua Aspalindo Kabupaten Jombang, Jarot Subiyantoro mengatakan, bahwa ribuan sak limbah berbahaya dan beracun itu tidak dibuang begitu saja. Namun sengaja digunakan untuk tanggul sungai karena ada permintaan dari masyarakat.

“Masyarakat 17 Desa di sekitar DAM tersebut mengadakan pertemuan dan meminta didatangkan sak limbah abu aluminium tersebut untuk urug, agar air sungai tidak meluap dan menenggelamkan areal persawahan, katanya kepada LICOM di Jombang, Jumat (10/06/2016).

Jarot menceritakan, pada November 2015 lalu, gabungan kelompok tani 17 desa yang berada di sekitar DAM Yani mengajukan permintaan secara tertulis ke Aspalindo Jombang.

Warga meminta agar tanggul Dam Yani di sisi selatan, Desa Budugsidorejo dan sisi utara, Desa Jombok diuruk dengan ribuan sak limbah B3 abu aluminium. “Masyarakat khawatir tanggul DAM yang tak bisa membendung air kalau dibiarkan, luapan air sungai akan merusak 583 hektar sawah,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Jarot, pihaknya pun mengirim puluhan truk limbah abu aluminium ke Dam Yani tersebut. Ribuan sak limbah B3 abu aluminum tersebut ditata rapi bersama warga di tanggul yang nyaris ambrol akibat arus sungai yang deras.

Namun demikian, Aspalindo bersikukuh mengklaim ribuan sak limbah yang ditimbun di Dam Yani tersebut tak mencemari lingkungan sekitar, termasuk ekosistem sungai tersebut.

Menurut Jarot, limbah berupa abu aluminium itu justru akan menjadi netral ketika terkena air. Sifat limbah berwarna abu-abu ini mengeluarkan uap panas berbau menyengat saat terkena air.

“Air akan menetralkan limbah dan itu tidak mencemari lingkungan. Harus ada uji lab terhadap kondisi air dan tanah di sekitar Dam Yani. Pasalnya, sejak Tahun 1970 di Kecamatan Sumobito ini sudah berjalan home industri cor aluminium. Saat ini sudah 136 pengusaha cor aluminium yang tersebar di 14 desa di Kecamatan Sumobito dan lima desa di Kecamatan Kesamben.” Bebernya.

Jarot menyebutkan, dalam sehari ratusan pengusaha itu mengolah 30 ton limbah aluminium dan bungkus makanan ringan yang didatangkan dari kawasan Ngoro Industri Persada (NIP), Maspion Sidoarjo dan kawasan industri yang berada di Tangerang, Banten. Limbah tersebut oleh para pengusaha diolah dengan cara dibakar.

Pengolahan tersebut menghasilkan aluminium batangan mencapai 10 – 50 % dari limbah yang diolah. Sedangkan sisa hasil pengholahan antara 20 – 25 % berupa abu aluminium, dimasukkan ke dalam karung (sak) seperti yang ditimbun di Dam Yani. Oleh pengusaha cor aluminium ada yang ditimbun dalam gudangnya, dan ada yang digunakan untuk urug lahan sendiri dan lahan warga sekitar yang meminta abu aluminium tersebut.” Tambahnya.

Ia menyadari apa yang dikakukan pengusaha menjadikan limbah B3 aluminium untuk urug lahan itu bisa berpotensi mencemari lingkungan. Akan tetapi kami sudah melakukan usaha puluhan tahun. Dan praktik itu dilakukan warga lantaran tak kuat membayar biaya pengolahan limbah ke PPLI di Jawa Barat yang tarifnya Rp 6 ribu per kilogram.

“Kalau harus kirim ke PPLI pengusaha tidak mampu, biaya terlalu mahal. Harapan kami pemerintah menyiapkan lahan untuk penampungan limbah. Dan juga harga di PPLI supaya tak semahal itu, pemerintah bisa memberikan solusi bagi pelaku usaha yang sudah berjalan puluhan tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Herio Romadhona Chaniago mengatakan, saat ini pihaknya sedang dilakukan penyelidikan kasus dumping limbah di Dam Yani tersebut. Sejauh ini, baru dilakukan keterangan saksi ahli dari BLH Jombang. Mereka memastikan limbah di Dam Yani tergolong B3. Dan memang ada unsur perbuatan pidana dalam kasus ini.

Hanya saja, belum berani menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan. Jika dilanjutkan dikhawatirkan akan terjadi gejolak di warga Sumobito dan Kesamben. Pasalnya, keberadaan limbah B3 di DAM Yani atas permintaan warga.

“Tidak mungkin kami memidanakan semua pengusaha dan warga sekitar tersebut. Itu juga permintaan warga karena dana untuk perbaikan tanggul DAM Yani tak juga turun. Akhirnya warga sepakat diuruk pakai limbah itu. Kami menunggu dari BLH dulu lah, harusnya ada solusinya dari Pemerintah Daerah,” pungkasnya.@obi