LENSAINDONESIA.COM: DPR RI mengesahkan Komjen Pol Tito Karnavian sebagai Kapolri dalam rapat paripurna, Senin (27/06/2016).

Persetujuan pada sidang paripurna DPR ini merupakan tindak lanjut dari hasil uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan Komisi III, pekan lalu.

Secara aklamasi, seluruh fraksi di Komisi III DPR menyatakan Tito lolos uji kelayakan dan kepatutan.

Pada sidang paripurna, Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo memaparkan hasil uji kepatutan dan kelayakan calon Kapolri.

“Berdasarkan keputusan Rapat Pleno, Komisi III DPR RI melalui pandangan fraksi-fraksi menyetujui untuk memberhentikan Jenderal Pol Badrodin Haiti untuk mengangkat Komjen Pol Tito Karnavian sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia,” kata Bambang, di Ruang Sidang Paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, selaku pimpinan sidang, meminta persetujuan seluruh anggota Dewan yang hadir. Tak ada yang menolak pengangkatan Tito.

“Hasil persetujuan sidang paripurna ini akan diproses lebih lanjut sesuai mekanisme yang ada,” kata Fadli.

Senada, anggota Komisi III DPR dari Partai Nasdem, Taufiqulhadi, mengatakan Tito dipilih karena memiliki kombinasi pengalaman lapangan dan kapasitas intelektual yang tinggi.
Menurutnya, dua hal itu membuat Tito mampu menangani kejahatan gaya baru.

“Kejahatan di masa yang akan datang itu ialah kejahatan yang tak bisa dibayangkan lagi, tak bisa dibandingkan dengan kejahatan yang terjadi 10–20 tahun lalu. Kejahatan sekarang ini sudah menggunakan teknologi cyber, lintas negara, dan terbalut dengan cara yang sangat halus,” katanya.

“Diperlukan kepala kepolisian yang memiliki kemampuan membaca semua itu, setelah kejahatan terjadi ataupun sebelum terjadi. Tito Karnavian sangat tepat di posisi tersebut,” tambah Taufiqulhadi.

Komisaris Jenderal Tito Karnavian disebut sebagai calon tunggal Kapolri oleh Presiden Joko Widodo. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme itu merupakan salah satu pemrakarsa Detasemen Khusus Anti-teror 88.

Dari segi akademis, dia menyandang gelar doktor dalam bidang Kajian Strategis dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura, pada tahun 2013.

Taufiqulhadi menambahkan, usia Tito yang relatif lebih muda dibanding nama lain dalam bursa calon Kapolri ialah aset dalam upaya membenahi Polri – salah satu lembaga dengan tingkat kepercayaan masyarakat terendah menurut sejumlah survei pada 2015.

“Kami berharap dia mampu melakukan reformasi internal dalam tubuh kepolisian. Dia punya kemampuan itu dan dia punya waktu. Karena pensiunnya masih sangat lama,” ujarnya.@LI-13