Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: NTT berencana mengumumkan kompetisi menangkap buaya air asin. Tiap buaya yang tertangkap hidup-hidup akan diganjar hadiah Rp5 juta.

Populasi buaya laut di pantai Kota Kupang telah meningkat dalam beberapa tahun. Bahkan, sudah ada laporan serangan buaya kepada turis.

“Kami sudah mengingatkan pada turis untuk berhati-hati ketika berwisata ke pantai. Tapi itu tidak cukup, kami harus melakukan sesuatu,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi NTT Ardu Jelamu, Kamis (5/8/2016).

Beberapa waktu lalu, seekor buaya dengan bebasnya berkeliaran di Pantai Lasiana. Kemudian keesokan harinya, seekor buaya kembali berkeliaran bebas di wilayah Teluk Kupang.

“Beberapa buaya punya ukuran tiga hingga empat meter panjangnya. Ini sangat mengerikan,” ujarnya.

Jelamu mengatakan kontes ini hanya diperuntukkan bagi para ahli, bukan masyarakat umum. Buaya ini akan ditangkap menggunakan tali dan obat penenang.

Setelah ditangkap, buaya yang masuk dalam daftar hewan dilindungi, tidak akan dibunuh. Mereka akan dilepas ke alam liar namun jauh dari pantai.

Peserta yang berkompetisi harus membentuk tim. Adapun perlombaan akan diselenggarakan dalam waktu dekat, kata Jelamu

Kebijakan ini menuai pro kontra, terutama para pegiat alam liar. Kontes ini dianggap bisa membahayakan. Kepala Bidang Teknis BBKSDA NTT, Maman Surahman mengatakan buaya merupakan “hewan yang menakutkan” untuk manusia.

Buaya air asin atau buaya muara merupakan spesies terbesar, dengan panjang tujuh meter dan sebagai predator tangguh.

Archipelago Indonesia merupakan rumah bagi hewan liar yang eksotis, termasuk beberapa spesies buaya.

Buaya di Indonesia secara reguler menyerang dan membunuh manusia. Pada April lalu, turis Rusia tewas saat berenang di Raja Ampat, lokasi menyelam favorit Indonesia. @licom