Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: ASWGI (Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan anak Indonesia) berencana membuat Deklarasi / Petisi untuk mendorong pemerintah agar fokus merespon problem pelik menimpa perempuan dan anak yang perkembangannya semakin memprihatinkan. Antara lain, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kasus “trafficking”, dan kesenjangan ekonomi perempuan.

Rencana petisi itu merupakan kesepakatan dari hasil pertemuan di Surabaya, Senin (15/8/2016). Kegiatan ini dihadiri 200 aktivis wanita yang tergabung di hampir 100 kelompok sosial wanita. Selama pertemuan, dibahas masa depan gerakan perempuan di Indonesia, disamping membedah salah satu buku yang baru saja diluncurkan salah satu anggota Pusat Studi Gender, Anak dan Wanita.

Ketua ASWGI, Anak dan Wanita, Prof Dr Emy Susanti, MA, mengatakan, tiga poin permasalahan terkait perempuan dan anak itu menjadi krusial untuk secepatnya diantisipasi pemerintah.

“Kami semua bersepakat untuk mendorong pemerintah segera mengakhiri kekerasan perempuan dan anak. Mengakhiri perdagangan manusia, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi terhadap perempuan”, tutur Emy Susanti kepada LICOM, menyampaikan kesimpulan hasil pertemuan.

ASWGI akan menyampaikan petisi terkait ketiga poin itu kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang ditembuskan kepada Badan Pemberdayaan Perempuan
tingkat provinsi dan kabupaten kota untuk ditindaklanjuti.

Emy juga menyampaikan kesepakatan lain dari pertemua itu. Ia bersama para wanita yang tergabung dalam ASWGI akan terus mengawal semua UU terkait perempuan dan anak. Selain itu, ia juga akan terus bekerja bersama-sama untuk melakukan penelitian, pendampingan serta memonitor kebijakan pemerintah terkait perempuan dan anak, juga memasifkan kesadaran aktif kebijakan pembangunan yang disebutnya “gerakan sunyi”.

“Ini merupakan upaya untuk mengonsolidasi gerakan-gerakan perempuan yang sudah ada dan menyebar di Indonesia. Dari kalangan akademisi maupun non akademisi”,
kata Emy seraya meyakini ASWGI akan menjadi gerakan titik balik kebangkitan perempuan. @retha