Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
Uang Rp 420 juta lenyap di rekening, nasabah Bank Danamon lapor Polda Jatim
Nasabah Bank Danamon cabang Panglima Sudirman, Surabaya Eric Priyo Prasetyo (batik) memberikan keterangan kepada media dengan didampingi kuasa hukumnya. Eric melapor ke Polda Jawa Timur setelah uangnya yang ada di dalam rekening Bank Danamon Rp 420 juta lenyap dengan sendirinya. Foto: Rofik-lensaindonesia.com
HEADLINE JATIM RAYA

Uang Rp 420 juta lenyap di rekening, nasabah Bank Danamon lapor Polda Jatim 

LENSAINDONESIA.COM: Eric Priyo Prasetyo, seorang nasabah Bank Danamon cabang Panglima Sudirman, Surabaya melaporkan ke Polda Jatim terkait lenyapnya uang sebesar Rp 420 juta dalam rekeningnya.

Lenyapnya uang ratusan juta tersebut, dikuras dengan cara D- Mobile Banking tanpa persetujuannya, hanya dalam waktu dua hari dan telah berpindah ke lima rekening milik orang lain, diantaranya Umar Halimasnyah, Abdul Hakim, Supriani, Iwan (Danamon) dan MGS Haries Budianto (Mandiri).

“Padahal saya tidak pernah melakukan tranksaksi pemindahan saldo kemanapun, kok tiba-tiba saldonya tinggal Rp 400 ribu,” ujar Eric didampingi kuasa hukumnya Fikri dan Susi saat melakukan jumpa pers, Selasa (06/09/2016).

Nizar Fikkri Kuasa Hukum korban menceritakan, kliennya dengan aplikasi D-mobile banking, untuk mengakses rekeningnya menggunakan nomer karto Hallo Telkomsel pasca bayar atas nama Tio Lulu Ugo (ibu kandungnya) yang juga tersinkronisasi dengan email Eric.

“Dua minggu sebelum uang lenyap, klien kami mendapat sms dan telepon dari seseorang yang tidak dikenal di nomer HP yang gunakan untuk mobile Banking. Dalam sms dan telephone itu secara terus menerus ditanya kode aplikasi Danamon Mobile Banking,” ujar Fikkri

“Khawatir atas teror itu, klien kami langsung menghubungi Kepala Cabang Bank Danamon Panglima Sudirman Surabaya, yang menyarankan untuk tidak menanggapi SMS maupun telephone tersebut.

“Pada 5 juni 2016 pukul 19.20 WIB, klien kami mendatangi Grapari Telkomsel untuk melakukan penutupan kartu yang digunakan ke aplikasi D-mobile Bangking hingga pukul 19.50 WIB dan menyerahkan smcard kepada petugas yang melayani,” terag Fikkri.

“Namun, beberapa menit sebelum penutupan akses tersebut, tepatnya pukul 19.39 WIB, telah terjadi pemindahan dari rekening klien kami sebesar Rp 100 juta ke rekening atas nama Umar Adi Alamsyah (Danamon),” tambah Fikkri.

Baca Juga:  Jaga mutu dan pelayanan, PPS Autoshine Salon Mobil raih ISO 9001

Peindahan tersebut terus berulang tanpa seizin korban hingga keesokan harinya ke nomor rekening lainnya hingga mencapai Rp 420 juta. “Uang saya habis terkuras,” timpal Eric.

Mengetahui uang dalam rekeningnya ludes, Erik mendatangi Bang Danamon Cabang Panglima Sudirman untuk menanyakan penjelasan terkait pemindahan uangnya tanpa seizinnya.

“Pihak bank telah mempersulit saat klien kami meminta print-out transaksi, tanpa alasan yang masuk akal, sehingga kami menempuh jalur hukum dengan melaporkan ke Polda Jatim,” papar Fikkri.

Pada hari yang sama yakni tanggal 7 Juni 2016, Eric dan ibunya Tio Lulu Ugo mendatangi kantor Telkomsel Grapari untuk menanyakan terkait adanya pengaktifan nomer kartu Hallo Telkomsel sehingga dapat menerima sms kode aktifasi, padahal diwaktu yang sama, account nomer tersebut sedang dalam proses penonaktifan.

Pihak PT Telkomsel Grapari menyatakan jika account nomer Hallo Telkomsel tersebut telah digandakan sebelum proses penonaktifan berakhir dengan lokasi pengaktifan di Jakarta yakni Grapari Kelapa Gading.

“Kami sangat menyesalkan sistem keamanan di Bank Danamon yang begitu mudah dibobol. Bahkan pihak Bank Danamon tidak kooperatif atas pengaduan nasabahnya,” lantut Fikkri.

“Padahal klien saya adalah salah satu nasabah yang loyal terhadap Bank Danamon, tetapi ketika terjadi masalah seperti ini yakni menjadi korban kriminal pihak Bank Danamon malah tidak perduli dan cuci tangan,” pungkasnya.

Untuk itu, ia akhirnya menempuh jalur hukum dengan melapor ke Polda Jatim dengan nomer laporan TBL/88/VI/2016/SUS/JATIM. Selain itu, Fikri juga sudah melaporkan hal ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia.@rofik