LENSAINDONESIA.COM: “Monggo, selamat datang mbak, mas,” celetuk seorang pria berperawakan kurus dengan senyum yang ramah. Pria paruh baya itu tampak senang menyambut kedatangan para wartawan di tempatnya.

Ia adalah Priyo Sulistyo Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Agrowisata Belimbing Ngringinrejo, Bojonegoro. Bersama sejumlah anggotanya, ia terus mengembangkan senyuman saat menyambut kedatangan rombongan wartawan, sambil mempersilahkan para tamunya ini untuk masuk ke sebuah gazebo yang terletak di lantai 2.

“Selamat datang kepada rombongan wartawan dari Pokja Pemprov Jawa Timur di Agrowisata Belimbing Ngringinrejo yang terletak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur,” sambung Priyo.

Priyo tampak sudah paham dengan kedatangan para wartawan, tanpa diminta ia langsung menjelaskan asal usul terbentuknya Agrowisata Belimbing Ngringinrejo. Berbekal microphone, ia mulai bercerita sejarah awal dari berkembangnya Agrowisata Belimbing Ngringinrejo.

Menurutnya tempatnya ini dulu tak tiba-tiba menjadi seperti sekarang yang ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah. Awalnya, lanjut Priyo, hanya berbentuk kebun yang luasnya tak terlalu besar dan selalu ditanami tanaman palawija serta jagung. Namun para petani tak tentu untuk memanen tanamannya kala itu, sebab wilayah yang dialiri Sungai Bengawan Solo ini kerap menjadi langganan banjir. Jika sudah banjir dan menggenangi kebun, maka para petani di desa itu rugi semua, karena tanamannya rusak oleh banjir.

“Berawal dari ide Mbah Sunyoto, Mbah Jainuri yang diikuti Mbah Abdul Goni dan Mbah Ngusman sekitar tahun 1984, mereka merintis untuk menanam belimbing di kebun ini. Awalnya hampir semua warga di desa ini menolak untuk ditanami belimbing, mereka lebih memilih palawija dan jagung karena panennya cepat, ketimbang belimbing,” paparnya.

Tak mudah meyakinkan warga desanya saat itu. Mereka terus saja menolak kebunnya ditanami belimbing yang bibit awalnya didatangkan dari Tuban. Para perintis Mbah Sunyoto, dkk terinspirasi warga Tuban yang banyak menanam belimbing saat itu, banyak yang menjadi kaya karena keuntungan melimpah.

Dan dari sinilah awal perjuangan untuk menyejahterahkan warga Desa Ngringinrejo dimulai. Untuk menanam belimbing pertama kali memang dibutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 4-5 tahun baru bisa dipanen. Hampir seluruh warga menolak karena alasan tersebut, lama dipanen.

“Warga sini nggak kuat menahan lapar. Karena memang satu-satunya hasil ya dari kebun. Selak kaliren, selak lesu nek nandur belimbing (keburu kelaparan kalau menanan belimbing). Begitu warga disini menolaknya. Mereka lebih memilih kebun ditanami palawija, jagung karena bisa dipanen setiap tiga bulan,” kata Priyo.

Namun karena kerja keras dan kegigihan Mbah Sunyoto untuk meyakinkan warganya, akhirnya satu per satu warga mau mengikuti ajakan untuk menanam belimbing. Keinginan Mbah Sunyoto hanya satu, yakni ingin mengubah lahan yang tidak produktif karena sering diterjang banjir menjadi produktif meski setiap tahun banjir melanda wilayahnya.

“Nah ternyata tanaman belimbing ini tahan banjir, (tanaman) nggak mudah rusak. Dari sini warga lainnya melihat dan mulai banyak yang mau lahannya ditanami belimbing,” imbuhnya.

Singkat cerita, setelah dirawat sedemikian rupa dan dilakukan pembibitan, tibalah waktunya panen buah belimbing yang hasilnya cukup melimpah. Bahkan, hasil panen juga bisa dijual hingga ke luar daerah Bojonegoro, mulai dari Tuban, Surabaya, Semarang hingga Jakarta. Sejak saat itu tanaman belimbing di Ngringinrejo terus dikembangkan hingga bisa menjadi Agrowisata Belimbing seperti sekarang.

Kini areal kebun belimbing di desa itu totalnya menjadi seluas 20,4 hektare yang ditanami sekitar 9.436 pohon milik 104 orang pemilik. Dan untuk setiap pohon bisa terus berbuah sampai 30 kilogram sekali panen.

Agrowisata Belimbing Ngringinrejo diminati wisatawan domestik hingga wisatawan manca negara. Ada sebanyak 53 lapak yang menjual belimbing di dalam kebun agrowisata. Tak hanya itu, para wisatawan juga bisa menikmati wisata petik belimbing langsung dari pohonnya.

Pokdarwis Agrowisata Belimbing Ngringinrejo berkomitmen untuk terus mengembangkan wisata kebanggannya ini yang tujuan utamaya, tak lain untuk menyejaherahkan para warganya yang mayoritas merupakan petani belimbing sekaligus pelaku wisata.

“Alhamdulillah dengan dijadikan Agrowisata yang baru berjalan sekitar tiga tahunan ini pejualan belimbing kami juga sangat meningkat drastis. Para petani belimbing bisa menjual langsung juga masih melayani pengiriman ke berbagai daerah. Ke depan semoga para pelaku wisata di desa ini hidupnya semakin sejahtera,” pungkas Priyo yang juga memiliki 375 pohon belimbing di Agrowisata.

Warga Ngringinrejo raup keuntungan

Seiring berkembangnya Agrowisata Belimbing Ngringinrejo, para warga yang juga pelaku wisata meraup keuntungan yang terus melimpah. Kini perekonomian warga desa disini merangkak naik dengan hanya mengandalkan penjualan buah yang dikenal sebagai penawar sakit tekanan darah tinggi.

Para pengunjung sedang duduk santai menikmati pemandangan pohon belimbing yang ada di Agrowisata Belimbing Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro. Foto; Sarifa-lensaindonesia.com
Para pengunjung sedang duduk santai menikmati pemandangan pohon belimbing yang ada di Agrowisata Belimbing Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro. Foto; Sarifa-lensaindonesia.com

Salah satu penjual belimbing di Agrowisata Ninik mengaku kalau perekonomiannya terus mengalami peningkatan hanya dari hasil panen belimbing. “Alhamdulillah kalau dulu ekonomi di keluarga saya sangat susah, sekarang lumayan, mbak. Buat makan enggak lagi susah. Kalau dulu saya kemana-mana jalan kaki atau naik sepeda ontel. Sekarang bisa beli sepeda motor. Alhamdulillah kebun belimbing saya bisa menghasilkan sekali,” kata wanita usia 37 tahun itu.

Setiap hari ada saja pengunjung yang datang ke Agrowisata, per hari pendapatannya bisa mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta hanya dari menjual belimbing kepada para wisatawan.

Ninik menjelaskan sekarang pohon belimbing yang dimilikinya telah mencapai 100 pohon dan sudah bisa dirasakan hasil panennya tanpa menunggu waktu lama seperti awal-awal menanam pohon belimbing dulu. Saat ini panen buah belimbing bisa sewaktu-waktu atau tidak mengenal musim. Dalam setahun bisa tiga kali panen.

“Tapi juga tergantung perawatannya. Kalau yang baru berbuah, buah yang mulai kecil saya bungkus plastik. Kita tunggu sampai 40 hari langsung bisa dipetik, selain itu juga dibungkus buahnya biar bentuknya bagus dan terjaga,” ujarnya.

Ia juga menceritakan jika tiba saat musim panen raya, buah yang dihasilkan pohonnya bisa mencapai minimal 30 kg buah per pohon. Sementara untuk harga buah belimbing yang dijualnya bermacam-macam, misal kualitas super (buah besar) per 1 kg dijual dengan harga Rp 12 ribu. Tak hanya itu buah belimbing yang dijualnya juga bermacam-macam jenisnya seperti bangkok merah, blantong juga madu.

Penjual belimbing lainnya Ika menuturkan, keberadaan Agrowisata Belimbing di desanya menjadi berkah tersendiri, karena banyak pengunjung atau wisatawan yang datang dan membeli belimbing. Sehingga para penjual belimbing tidak bersusah payah berjualan ke pasar.

“Dulu sebelum ada agrowisata, kami jualannya ke pasar dan hasil yang kami terima juga enggak seberapa. Kalau dulu jual di pasar, untuk belimbing yang super ini harganya cuma Rp 2 ribu per kilo. Sekarang kan dijual sendiri ke wisatawan yang kesini, harganya sampai Rp 12 ribu per kilo. Alhamdulillah mbak, saya senang sekali dengan adanya agrowisata belimbing ini, cari rejeki ya enak,” tambahnya.

Hanya dari menjual belimbing, ia bisa mengantongi pundi-pundi rupiah yang cukup banyak. Menurut Ika, agrowisata biasanya ramai pengunjung saat hari libur, Sabtu-Minggu. Dari penjualan itu pendapatannya bisa lebih Rp 1 juta dalam sehari. “Kalau liburan tahun baru malah lebih ramai lagi, pendapatan juga bisa lebih. Rata-rata satu pedagang disini bisa bisa menjual belimbing sampai Rp 2 jutaan,” imbuhnya.

Dapat Anugerah Wisata 2014

Diketahui, Agrowisata Belimbing Ngringirejo ini juga berhasil menyabet penghargaan tingkat provinsi sebagai wisata buatan. Pemprov Jawa Timur menganugerahkan penghargaan berupa Anugerah Wisata 2014. Sejak saat itu pula Agrowisata Belimbing Ngringinrejo terus dikenal masyarakat, para pengunjung terus berdatangan untuk menikmati wisata petik belimbing di desa yang jaraknya sekitar 15 km ke arah barat dari pusat kota Kabupaten Bojonegoro.

Tercatat, pada tahun baru 2015 yang lalu, dalam sehari bisa kedatangan sekitar 6.700-an pengunjung, sedangkan dalam jangka setahun mencapai 111.036 pengunjung. Kemudian pada momen tahun baru 2016, jumlah pengunjung meningkat sebanyak 7.363 wisatawan, dan jumlah yang datang hingga akhir Agustus 2016 lebih 94 ribu pengunjung.

Plakat Agrowisata Belimbing Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro sebelum pintu masuk. Sarifa-lensaindonesia.com
Plakat Agrowisata Belimbing Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro sebelum pintu masuk. Sarifa-lensaindonesia.com

Kepala Desa Ngringinrejo M Syafi’i berharap, kedepan jumlah pengunjung semakin meningkat dengan fasilitas lebih baik. Sekaligus perhatian dari pemerintah lebih serius, terutama dalam hal promosi wisata yang ada di wilayahnya.

“Harapan kami sebagai Kepala Desa, Pokdarwis disini semakin bersemangat mengelola dan melakukan inovasi untuk membuat pengunjung tertarik, yang imbasnya kembali kepada warga dan kesejahteraan tentu menjadi lebih baik,” kata Syafi’i.

Selain mengharapkan bantuan dari Pemkab, pihaknya bersama Pokdarwis telah bersepakat untuk menetapkan pembelian tiket masuk bagi parapengunjung. Harga tiket dipatok hanya Rp 2 ribu untuk sekali masuk bagi setiap orang. Dari hasil itu, uang masuk ke kas desa dan sebagian untuk pemeliharaan rutin sarana dan prasarana di agrowisata.

Ditambahkan Bupati Bojonegoro Suyoto, Pemkab terus mendorong munculnya destinasi wisata baru yang ada di wilayahnya. Pertama, moto yang dipegang Kang Yoto (sapaan akrab bupati) dalam dua kali memimpin Kabupaten Bojonegoro yaitu “Lampaui Batas Maksimalmu”.

Ia mengakui daerah yang dipimpinnya dulunya mempunyai kondisi tanah yang memprihatinkan, gersang dan tak dapat ditanami tanaman. Ditambah bencana banjir tahunan yang kerap menerjang wilayahnya. Sehingga kemiskinan terus menghantui warganya.

Tapi karena semangat para birokrat juga peran aktif warga Bojonegoro agar bisa menumpas kemiskinan warganya, segala upaya untuk membuat perekonomian warga bangkit terus dilakukan. Dengan kekayaan alam Bojonegoro sangat luar biasa, Bojonegoro mampu bangkit dan memiliki impian menjadi lumbung pangan dan energi negeri. “Bojonegoro “Matoh”, itulah semangat kami,” tegasnya.

Agrowisata Belimbing Ngringinrejo salah satu destinasi wisata unggulan yang di Bojonegoro. “Daerah itu selalu menjadi langganan banjir karena luapan Bengawan Solo, tetapi sekarang telah berubah, menjadi argowisata. Potensi untuk membangkitkan ekonomi seperti ini akan terus kami tingkatkan,” kata Kang Yoto.

Pihaknya juga berkomitmen untuk memberikan dukungan bagi pengembangan wisata di Bojonegoro. Mulai dari perbaikan prasarana wahana obyek wisata, pengelolaan pariwisata sinergitas, pembangunan sumber daya manusia, serta promosi wisata.

“Khusus sektor promosi, kami melibatkan semua pemangku kepentingan maupun masyarakat. Bahkan dilakukan berbagai cara agar menarik wisatawan,” tegasnya.

Kang Yoto juga mengungkapkan saat ini keberadaan buah belimbing unggulan dari Ngringinrejo itu juga mulai dikembangkan olahannya di antaranya menjadi minuman sari belimbing, keripik belimbing dan dodol belimbing.

Sektor wisata tersebut, saat ini telah menjadi primadona baru penggerak ekonomi masyarakat, terlebih dengan dilibatkannya masyarakat untuk menjadi motor penggeraknya. Agrowisata Belimbing Ngringinrejo menjadi unggulan baru pariwisata di Bojonegoro, sekaligus pendongkrak ekonomi warga desa, yang sebelumnya selalu merasakan dampak banjir sungai Bengawan Solo.

Kini, para warga disekitar Agrowisata Belimbing Ngringinsari justru mengharapkan agar wilayahnya banjir, karena dengan begitu tanaman belimbingnya akan semakin subur dan berbuah lebat.@sarifa