Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Jangan bangga punya anak terlalu penurut, ini masalahnya
Cita-cita ingin menjadi tentara. Foto: Ilustrasi
Family

Jangan bangga punya anak terlalu penurut, ini masalahnya 

LENSAINDONESIA.COM: Pada umumnya, para orang tua sangat bangga memiliki anak yang penurut. Selalu mau menjalankan perintah orang tua. Hal ini karena dalam masyarakat menganggap bahwa anak yang menurut kepada perintah orang tuanya adalah anak yang baik dan sopan.

Padahal, anak yang penurut akan menjadi anak yang cenderung pasif. Biasanya kurang mandiri karena hanya melakukan suatu hal setelah disuruh atau atau diperintah oleh orang tuanya.

Ada pula anak yang terlalu penurut bahkan untuk menentukan masa depannya pun dia masih menuruti perintah orang tuanya.

Bahkan. sebuah artikel yang dirilis AhaParenting.com menyebutkan, bahwa anak penurut akan mempunyai sedikit tanggung jawab. Sebab apa yang mereka perbuat dan akan cenderung menyalahkan orang yang menyuruhnya meskipun mereka tak berani mengungkapkannya.

Selain itu ternyata jika anak Anda terbiasa dan menjadi penurut, selalu mengiyakan perkataan orang tua tanpa membantah, kemungkinan besar akan rentan terhadap bully saat dia beranjak besar.

Ketika anak di rumah terbiasa (dan terpaksa) selalu berkata iya kepada orang tuanya, maka saat di sekolah atau keluar dari lingkungan rumah, anak akan sulit memberikan pendapatnya sendiri. Misalnya saat ia dipukul temannya, dia akan diam saja. Pulang ke rumah ia akan menangis. Mengapa demikian? Bisa jadi karena ia tidak dibiasakan dan belajar mengutarakan pendapatnya sendiri.

Oleh karenanya jika anak Anda menolak melakukan sesuatu saat Anda memintanya, orang tua seharusnya patut berbangga karena sejak masih kecil dia sudah mampu berpendapat.

Misal, saat Anda memintanya membereskan, si kecil menolaknya. Maka jangan langsung marah-marah. Bisa jadi ia masih ingin bermain. Atau dia belum bisa membereskan mainannnya sendiri.

Ingatlah usia anak berkaitan dengan kemandiriannya. Jangan memberikan ekspektasi yang tidak sesuai dengan usianya. Contohkanlah pada anak Anda dengan membantunya membereskan mainan selepas bermain. Percayalah, dengan berjalannya waktu, ia akan terbiasa.

Baca Juga:  KPK kembali datangi Pengadilan Negeri Surabaya

Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si., psikolog anak, berpendapat bahwa orang tua sebaiknya jangan pernah bermimpi untuk mempunyai anak yang penurut. Sebaliknya, bermimpilah mempunyai anak yang bisa diajak bekerjasama.

Kak Seto mencontohkan sebaiknya orang tua jangan hanya menanyakan nilai mata pelajaran anaknya di sekolah. Selain bertanya tentang prestasi anak, cobalah perasaan si anak saat mereka di sekolah, bagaimana hubungannya dengan teman-teman dan guru. Perlu juga ditanyakan bagaimana perasaan sang anak terhadap ayah dan ibunya. Dengan cara seperti ini maka orang tua menghargai faktor emosi yang dimiliki oleh anaknya.

Sementara itu menurut James Lehman, MSW, seorang terapis anak dan keluarga dari Boston, Amerika, karakter seseorang memang sudah mulai bisa diprediksikan sejak masa kanak-kanak. Tetapi, anak-anak yang saat ini tampak penurut belum tentu nantinya akan menjadi orang yang selalu berada di bawah.

“Bisa saja kelak anak tersebut tumbuh menjadi seorang pemimpin. Jadi, sebaiknya orang tua tidak terlalu tergesa-gesa menakar potensi kepemimpinan anak,” katanya.

Psikolog Adib Setiawan, M.Psi. mengatakan biasanya orangtua bertipikal otoriter akan menuntut anaknya menjadi penurut. Anak terpaksa patuh demi menyenangkan orangtua dan menghindarkan kekerasan fisik yang dilakukan orangtua. Nyatanya, masih banyak orangtua yang menyertakan kekerasan fisik dalam mendidik anak.

Kepatuhan yang didasari rasa takut bisa berakibat buruk pada kepribadian dan kehidupan sosial anak. Psikolog ini menjelaskan, anak akan jadi pribadi yang tertutup, pendiam dan kerap kesulitan memecahkan masalahnya sendiri. Mereka selalu bergantung kepada orang lain karena terbiasa diatur orangtua tanpa kesempatan berpendapat. Pakaian, mainan, buku, dan sebagainya adalah pilihan orangtua. Bahkan bisa jadi cita-citanya pun pilihan dan keinginan orangtua.

Sama seperti pendapat Kak Seto, Adib Setiawan juga mengatakan sebaiknya orangtua juga jangan berbangga dulu bila anaknya selalu patuh dan menuruti kata-katanya. Selalu ada kemungkinan anak hanya menunjukkan kepatuhannya di rumah, sementara di sekolah atau lingkungan lain suka membangkang dan bersikap agresif. Karena tak berani bersuara di rumah, maka di luar rumah mereka melakukan pelampiasan dengan tindakan-tindakan agresif.

Baca Juga:  Ditangkap jelang pelantikan presiden, pengacara sebut Eggi Sudjana diperiksa terkait kasus perakitan bom

Seandainya pelampiasan sang anak tidak dilakukan kini, selalu ada kemungkinan anak akan melampiaskannya saat dewasa. Ada dendam dalam dirinya terhadap orang tua dan lingkungan yang menekannya sedemikian rupa untuk selalu menuruti keinginan mereka. Alangkah mengerikan jika dendamnya dilampiaskan dengan cara-cara yang keji.@LI-13/beritagar/AhaParenting