LENSAINDONESIA.COM: Pemberantasan terhadap peredaran Narkoba masih setengah hati dilakukan penegak hukum. Hakim Didik Sutanto mengaku takut memberikan vonis lebih tinggi dari tuntutan Jaksa terhadap terdakwa Chen Yung Lin alias Chen Min Zni (32) warga Negara Taiwan yang menyelundupkan 60 ribu butir ekstasi.

Akhirnya, Majelis Hakim PN Surabaya itu, menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 800 juta Subsider 6 bulan terhadap terdakwa yang anggota jaringan narkoba internasional itu.

Ditanya usai sidang, anggota Majelis Hakim, Didik Sutanto mengaku sejatinya ingin memberikan vonis lebih tinggi. “Sebenarnya, saya ingin memvonis 20 tahun, tapi saya takut disalahkan karena tuntutan Jaksa hanya 15 tahun. Jadi, itu sudah maksimal,” ujarnya.

‎Dalam sidang yang digelar di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya, terdakwa dinyatakan melanggar Pasal 112 ayat (1) UU RI no 35 Tahun 2009 tentang Psikotrapika Subsider ‎Pasal Pasal 62 UU no 5 Tahun 1997 tentang mendatangkan barang impor tanpa ijin.

“Terdakwa terbukti bersalah dan menjatuhkan Hukuman 15 tahun Penjara,” kata Didik Sutanto membacakan amar putusan.

‎Sebelumnya, Ketua Majelis Hakim Sigit Sutanto sempat terperangah mendengar tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roginta Sirait yang menuntutnya super ringan untuk terdakwa yang terancam maksimal hukuman mati dan tidak bisa berbahasa Indonesia itu.

Diketahui, terdakwa Chen Yung Lin yang selama sidang didampingi penerjemah ini, ia ditangkap Anggota Dit Reskoba Polda Jatim saat mengambil paketan Narkoba pada 23 Januari 2016 di kantor pos Jl Kebon Rojo, yang berisi 40 ribu butir ekstasi.

Setelah dilakukan pengembangan, petugas mendapati 20.042 butir ekstasi lainnya yang disimpan di kamar 510 kos mewah Metro House Jl Dukuh Kupang Barat no 50, Surabaya.

Warga Taiwan ini didakwa pasal berlapis. Dakwaan pertama, dia didakwa dengan pasal 112 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang psikotrapika.

Pada dakwaan primair pertama, terdakwa didakwa melanggar Undang Undang (UU) RI 61 ayat 1 huruf a dan b, dan UU No 5 tahun 1997, subsidair pasal 62 UU no 5 Tahun 1997, tentang mendatangkan barang impor tanpa ijin, dengan ancaman hukuman maksimalnya adalah hukuman mati. @rofik